STRATEGI PRESERVASI NASKAH KUNO, PENGALAMAN DIGITALISASI NASKAH KUNO DI PPIM UIN JAKARTA, DAN RENCANA DIGITALISASI NASKAH KUNO

Oleh. Erika[*]

Naskah Kuno

A. STRATEGI PRESERVASI NASKAH KUNO

Naskah adalah koleksi tulisan tangan yang belum dicetak atau diterbitkan (Jusuf, 1982 : 2). Sementara itu, ada banyak definisi mengenai naskah kuno, dua di antaranya yaitu:

  1. Manuskrip adalah dokumen dari berbagai macam jenis yang ditulis dengan tangan, tetapi lebih mengkhususkan kepada bentuk yang asli sebelum dicetak. Kata tersebut juga bisa berarti karangan, surat, dsb yang masih ditulis dengan tangan (Feather, 1997 : 289).
  2. Naskah Kuno atau Manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2).

Sebagaimana diketahui naskah kuno atau manuskrip ini diatur pengelolaannya dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, sehingga keberadaan hasil budaya bangsa/ naskah kuno di bumi persada ini tetap aman, terjaga dan terlindungi, serta tidak mudah berpindah pengelolaannya oleh pihak-pihak lain.[1]

Pengelolaan naskah kuno yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah upaya melestarikannya. Preservation atau pelestarian mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip, termasuk di dalamnya kebijakan pengelolaan, keuangan, sumber daya manusia, metode, dan teknik penyimpanannya.[2] Bahan pustaka yang dimaksud, termasuklah di dalamnya manuskrip atau naskah kuno.

Tujuan pelestarian bahan pustaka dan arsip adalah melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dengan alih bentuk dengan menggunakan media lain atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan secara optimal.[3]

Dalam strategi pelestarian (preservasi) naskah kuno, terdapat dua pendekatan yang dilakukan, yaitu pendekatan terhadap fisik naskah dan pendekatan terhadap teks dalam naskah (isi naskah).

Berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992 disebutkan bahwa yang merupakan naskah kuno adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih.

1. PRESERVASI FISIK NASKAH KUNO

Dari isi Undang-Undang Cagar Budaya di atasa dapat terbayang bahwa keadaan fisik dari naskah kuno yang berusia 50 tahun lebih tersebut tentu sudah rapuh atau rusak. Preservasi terhadap fisik naskah dilakukan sesuai dengan tujuan preservasi yaitu agar informasi yang terkandung di dalam manuskrip tersebut terjaga dan dapat digunakan secara optimal. Dua hal yang perlu dilakukan dalam preservasi fisik naskah, yaitu dengan melakukan konservasi dan restorasi.

a. Konservasi

Konservasi adalah seni menjaga sesuatu agar tidak hilang, terbuang, dan rusak atau dihancurkan. Konservasi naskah kuno adalah perlindungan, pengawetan dan pemeliharaan naskah kuno atau dengan kata lain menjaga naskah kuno tersebut dalam keadaan selamat atau aman dari segala yang dapat membuatnya hilang, rusak, atau terbuang. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.

Naskah kuno atau manuskrip mengandung kadar asam karena tinta yang digunakan. Tinta yang digunakan pada manuskrip terbuat dari karbon, biasanya  jelaga, dicampur dengan gum arabic. Tinta ini menghasilkan gambar yang sangat stabil. Agar kondisinya tetap baik, keasaman yang terkandung dalam naskah tersebut harus dihilangkan. Setelah keasamannya hilang, manuskrip dibungkus dengan kertas khusus, lalu disimpan dalam kotak karton bebas asam. Ini merupakan salah satu cara melakukan konservasi terhadap manuskrip.

b. Restorasi

Setelah dilakukan konservasi, naskah kuno akan mengalami restorasi. Restorasi adalah mengembalikan bentuk naskah menjadi lebih kokoh. Ada teknik-teknik tertentu agar fisik naskah terjaga dan membuatnya kokoh.

Untuk melakukan restorasi harus melihat keadaan manuskrip tersebut, karena tiap kerusakan fisik perlu ditangani dengan cara yang berbeda. Hal ini dikarenakan cara manuskrip rusak ada bermacam-macam, tergantung sebab dan jenis kerusakan. Langkah-langkah melakukan restorasi naskah kuno antara lain:[4]

  1. Membersihkan dan melakukan fumigasi.
  2. Melapisi dengan kertas khusus (doorslagh) pada lembaran naskah yang rentan.
  3. Memperbaiki lembaran naskah yang rusak dengan bahan arsip.
  4. Menempatkan di dalam tempat aman (almari).
  5. Menempatkan pada ruangan ber-AC dengan suhu udara teratur.

Kodikologi merupakan ilmu yang digunakan untuk melakukan preservasi fisik naskah ini. Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’— bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.

Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut.

Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain juga mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu.

Kodikologi, atau biasa disebut ilmu pernaskahan bertujuan mengetahui segala aspek naskah yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan naskah tentunya.[5]

Analisis kodikologi ini, sesuai dengan tujuan, yaitu penyusunan daftar katalog dan juga memberi perhatian pada fisik naskah. Karena dalam katalog, terdapat deskripsi fisik naskah selain informasi di mana naskah itu berada. Pendeskripsian ini berguna untuk membantu para peneliti mengetahui ketersediaan naskah itu sehingga memudahkan penelitian. Pendeskripsian fisik ini dapat berupa judul dan pengarang naskah, tahun dan tempat naskah dibuat, jumlah halaman, latar belakang penulis, dan lain-lain.

Maka selain mencari asal-usul dan kejelasan mengenai kapan, bagaimana, dan dari mana naskah tersebut dihasilkan, analisis kodikologi juga berkembang juga pada ada atau tidaknya illuminasi dan ilustrasi, jumlah kuras naskah, bentuk jilidannya, sejauh mana kerusakan naskah (robek, terbakar, terpotong, rusak karena pernah terkena cairan, dimakan binatang, berjamur, hancur atau patah, dan lain-lain)— pendeknya segala hal yang bisa diketahui mengenai naskah itu.

Hal awal yang biasanya dilakukan dalam analisis kodikologi adalah menyusuri sejarah naskah. Sejarah naskah biasanya didapat dari catatan-catatan di halaman awal atau akhir yang ditulis oleh pemilik atau penyimpan naskah itu. Untuk fisik naskahnya, yang dilihat adalah panjang, lebar, ketebalan naskah keseluruhan, panjang, lebar, dan jumlah halaman yang digunakan untuk menulis, dan bahan atau media naskah.

Setelah hal-hal di atas dilakukan, preservasi masuk ke bagian dalam naskah, yaitu bagian naskah yang ditulisi atau teks. Di sini akan dilihat jenis huruf dan bahasa yang digunakan, ada atau tidaknya rubrikasi atau penanda awal dan akhir bagian dalam tulisan (biasanya berupa tulisan yang diwarnai berbeda dengan tulisan isi), ada atau tidaknya catchword/ kata pengait yang biasanya digunakan untuk menandai halaman naskah, bentuk tulisan naskah, apakah seperti penulisan cerita pada umumnya, ataukah berbentuk kolom-kolom hingga dalam satu halaman bisa terdapat dua atau lebih kolom tulisan (seperti syair).

Selanjutnya akan dicek garis bantuan yang digunakan untuk mengatur tulisan, cap kertas (watermark dan countermark) yang menandai perusahaan penghasil kertas alas, ada atau tidaknya iluminasi (hiasan di pinggir naskah) dan ilustrasi (bagian yang berisikan gambar keterangan yang menjelaskan sesuatu dalam naskah). Tak lupa pula kerusakan-kerusakan yang ada dicatat.

2. PRESERVASI TEKS DALAM NASKAH

Pelestarian isi naskah dapat dilakukan jika fisik naskah memadai. Artinya, jika fisik naskah rapuh, robek, berjamur, atau hancur, dan lain sebagainya, proses preservasi terhadap isi naskah akan sulit dilakukan. Pelestarian terhadap isi naskah dapat dilakukan dengan digitalisasi, katalogisasi, dan riset, serta disalin (ditulis ulang), dialih aksarakan, dan diterjemahkan.

a. Digitalisasi

Digitalisasi manuskrip adalah proses pengalihan manuskrip dari bentuk aslinya ke dalam bentuk digital atau menyalinnya dengan melakukan scanning (dengan scanner) atau memfotonya (dengan kamera digital).

Digitalisasi naskah perlu dilakukan agar isi kandungan dari naskah tersebut tetap terjaga jika sewaktu-waktu fisik naskah tersebut sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Digitalisasi memiliki manfaat di antaranya:

  1. Mengamankan isi naskah dari kepunahan agar generasi seterusnya tetap mendapatkan informasi dari ilmu-ilmu yang terkandung dari naskah tersebut.
  2. Mudah digandakan berkali-kali untuk dijadikan cadangan (backup data).
  3. Mudah untuk digali informasinya oleh para peneliti jika di-upload ke sebuah alamat web.
  4. Dapat dijadikan sebagai obyek  promosi terhadap kekayaan bangsa.

Proses digitalisasi naskah kuno dengan kamera menggunakan jenis kamera tertentu dengan tipe yang dapat menghasilkan gambar atau foto dengan tingkat piksel tinggi. Sehingga naskah dapat dibaca jika di-zoom in. Kamera tersebut dihubungkan ke perangkat komputer atau laptop yang sudah diinstal perangkat lunak yang kompatibel untuk mengolah gambar yang diambil.

Hasil dari pendigitalan dengan kamera berupa gambar dengan format RAW (format foto ‘mentah’) yang dapat dikonversi ke bentuk JPEG (Joint Photographic Experts Group) atau TIFF (Tagged Image File Format). Untuk koleksi perpustakaan, format yang dipakai adalah TIFF. Namun untuk konsumsi awan, seperti peng-upload-an ke portal dunia maya menggunakan format JPEG, karena piksel dan size yang kecil.

Hasil pendigitalan dengan menggunakan scanner berupa gambar dengan format yang biasanya adalah JPEG. Kemudian dengan perangkat lunak tertentu untuk di-edit. Cara kerja Scanner :[6]

Ketika kamu menekan tombol mouse untuk memulai Scanning, yang terjadi adalah :

  1. Penekanan tombol mouse dari komputer menggerakkan pengendali kecepatan pada mesin scanner. Mesin yang terletak dalam scanner tersebut mengendalikan proses pengiriman ke unit scanning.
  2. Kemudian unit scanning menempatkan proses pengiiman ke tempat atau jalur yang sesuai untuk langsung memulai scanning.
  3. Nyala lampu yang terlihat pada Scanner menandakan bahwa kegiatan scanning sudah mulai dilakukan.
  4. Setelah nyala lampu sudah tidak ada, berarti proses scan sudah selesai dan hasilnya dapat dilihat pada layar monitor.
  5. Apabila hasil atau tampilan teks / gambar ingin dirubah, kita dapat merubahnya dengan menggunakan software-software aplikasi yang ada. Misalnya dengan photoshop, Adobe dan lain- lain. pot scanned.

Pada proses pendigitalan dilakukan juga proses pendeskripsian naskah, salah satunya pendeskripsian fisik naskah  yang sudah disebutkan sebelumnya dalam kodikologi. Proses pendeskripsian ini bertujuan untuk membuat katalog, namun tak hanya sebatas pada fisik naskah saja seperti yang telah diterangkan sebelumnya, tapi juga isi naskah.

b. Katalogisasi

Pada katalogisasi ini pendeskripsian isi naskah biasanya dibuat dalam bentuk abstrak atau penjelasan singkat mengenai isi naskah tersebut. Tujuannya adalah agar para peneliti, mahasiswa, atau siapapun yang ingin mengkaji suatu naskah yang dibutuhkan dapat dengan mudah melakukan penilaian sebelum membaca naskah asli dengan membaca abstrak  tersebut. Selain tujuan tersebut, manfaat lain dari pembuatan katalog naskah kuno ini untuk mengetahui keberadaan suatu naskah yang sudah didigitalkan. Biasanya ini berbentuk katalog online.

Selain membuat abstrak, bisa saja naskah kuno tersebut dibuat subyek atau disiplin ilmu yang dibahas di naskah tersebut. Sehingga juga dapat memudahkan seseorang untuk menentukan naskah mana yang sesuai dengan kebutuhannya untuk riset.

Untuk membuat katalog ini seorang pustakawan atau peneliti perlu tahu isi dari naskah tersebut. Maka dilakukanlah sebuah riset untuk mengetahui isi naskah. Riset dilakukan dengan mengkaji sejarah naskah, sastra yang terkandung dalam naskah, dan kritik teks, dan lainnya.

c. Riset

Riset berasal dari kata “research” yang merupakan sebuah studi ilmiah  terhadap suatu subyek, khususnya dalam hal menemukan fakta-fakta baru atau informasi mengenai subyek tersebut.

Kajian atau riset terhadap sejarah, sastra, dan kritik teks, dan lainnya dilakukan dengan menggunakan suatu ilmu. Jika dalam pelestarian terhadap fisik naskah dengan menggunakan ilmu kodikologi, maka preservasi terhadap teks dalam naskah dengan menggunakan ilmu filologi.

Secara etimologi filologi berasal dari bahasa Yunani, philologia, gabungan kata dari philos = ‘teman’ dan logos = ‘pembicaraan’ atau ‘ilmu’. Dalam bahasa Yunani, philologia berarti ‘senang berbicara’. Dari pengertian ini kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, ‘senang kepada ilmu’, ‘senang kepada tulisan-tulisan’, dan kemudian ‘senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi’ seperti ‘karya-karya sastra’.

Menurut istilah, philologia mulai dipakai pada kira-kira abad ke-3 SM oleh sekelompok ahli dari Iskandariyah, yaitu untuk menyebut keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggal tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun sebelumnya. Ahli dari Iskandariyah yang pertama kali melontarkan tulisan ‘filologi’ bernama Eratosthenes. Pada waktu itu, mereka harus berhadapan dengan sejumlah peninggalan tulisan yang menyiman suatu informasi dengan bentuk tulisan itu terdapat sejumlah bacaan yang rusak atau korup.

  • Filologi sebagai Ilmu Bahasa dalam Mengungkap Isi Naskah Kuno

Sebagai hasil budaya masa lampau, peninggalan tulisan perlu dipahami dalam konteks masyarakat yang melahirkannya. Pengetahuan tentang berbagai konvensi yang hidup dalam masyarakat yang melatarbelakangi penciptaannya mempunyai peran yang besar bagi upaya memahami kandungan isinya.

Mengingat bahwa lapis awal dari karya tulisan masa lampau berupa bahasa, maka pekerja filologi pertama-tama dituntut untuk memiliki bekal pengetahuan tentang bahasa yang dipakai dalam karya tulisan lama tersebut. Hal ini berarti juga bahwa pengetahuan kebahasaan secara luas diperlukan untuk membongkar kandungan isi karya tulisan masa lampau. Dengan demikian, seorang filolog harus pula ahli bahasa.

Dari situasi inilah kemudian filologi dipandang sebagai ilmu tentang bahasa. Dalam konsep ini, filologi dipandang sebagai ilmu dan studi bahasa yang ilmiah, seperti yang pada saat ini dilakukan oleh linguistik. Jika studinya dikhususkan terhadap teks-teks masa lampau, filologi memperoleh makna sebagaimana yang terdapat pada linguistik diakronis. Filologi dengan pengertian ini antara lain dapat dijumpai di Inggris. Di Arab, filologi demikian disebut dengan fiqh al-lughah.

Dengan pendekatan filologi sebagai ilmu bahasa inilah, dapat diketahui perubahan suatu bahasa di lingkungan masyarakat tertentu dari satu masa ke masa berikutnya. Faktanya bahwa khazanah bahasa mengalami perkembangan dan perubahan terus-menerus. Entahkah itu dari segi ejaan, lafal, semantik, dan lain-lain.

Sebagai contoh, penggunaan bahasa Arab di masyarakat Arab ketika Al-Quran turun tidak sama dengan bahasa Arab yang dipakai masyarakat Arab hari ini. Hal ini dikarenakan perkembangan dan perubahan tadi yang menyebabkannya tidak sama.

Perkembangan dan perubahan suatu bahasa dipengaruhi oleh perkembangan zaman, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju yang berimbas kepada kultur suatu masyarkat. Termasuklah disitu masalah bahasa yang dipakai masyarakat yang biasanya akan berkembang dengan munculnya kata-kata atau istilah-istilah baru yang dapat menyebabkan kata-kata atau istilah-istilah lama hilang atau tidak terpakai. Sehingga semakin maju suatu zaman, tradisi-tradisi lama terlupakan atau tidak lagi diajarkan karena sudah tidak lagi fleksibel. Maka tak heran sering terdengar bahasa-bahasa lama yang punah, yang artinya sudah tidak ada lagi orang yang mampu menggunakan bahasa tersebut.

Selain itu, dengan pendekatan filologi ini akan diketahui kekayaan suatu bahasa dan tradisi berpikir masyarakat yang tidak selalu sama dengan masyarakat lain. Setiap bahasa memiliki akar serta lingkungan kultural yang khusus dari suatu masyarakat tertentu. Karena Di tiap lingkungan masyarakat tentu memiliki perbedaan kondisi sosial, psikologi, antropologi, dan geografi yang berbeda.

  • Filologi sebagai Ilmu Sastra Tinggi untuk Mengungkap Nilai Sastra Naskah Kuno

Dalam perkembangannya, karya-karya tulisan masa lampau yang didekati dengan filologi berupa karya-karya yang mempunyai nilai yang tinggi di dalam masyarakat. Karya-karya yang pada umumnya dipandang sebagai karya-karya sastra adiluhung, misalnya karya Yunani, Homerus, atau karya Raja Ali Haji yang berjudul Gurindam Dua Belas. Perkembangan sasaran kerja ini kemudian melahirkan pengertian tentang istilah filologi sebagai studi sastra atau ilmu sastra. Sehingga kajian sastra masuk ke dalam riset teks dalam naskah.

  • Filologi sebagai Ilmu Studi Teks untuk Mengkaji Teks Naskah Kuno

Sebagai studi teks filologi dipakai juga untuk menyebut ‘ilmu yang berhubungan dengan studi teks, yaitu studi yang dilakukan dalam rangka mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalamnya’. Pengertian demikian antara lain dapat dijumpai pada filologi di Negeri Belanda. Sejalan dengan pengertian ini, di Prancis, filologi mendapatkan pengertian sebagai ‘studi suatu bahasa melalui dokumen tertulis dan studi mengenai teks lama beserta penurunan (transmisinya)’.

Konsep filologi demikian bertujuan mengungkapkan hasil budaya masa lampau sebagaimana yang terungkap dalam teks aslinya. Studinya menitikberatkan pada teks yang tersimpan dalam karya tulis masa lampau.[7]

  • Filologi dalam Mengungkap Sejarah yang Terkandung di Naskah Kuno

Dari pengertian-pengertian di atas, sebagai istilah, filologi merupakan satu disiplin yang ditujukan pada studi tentang teks yang tersimpan dalam peninggalan tulisan masa lampau. Studi teks ini didasari oleh adanya informasi tentang hasil budaya manusia pada masa lampau yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu, sebagai satu disiplin, filologi tergolong dalam ilmu-ilmu kemanusiaan yang bertujuan untuk mengungkapkan hasil budaya masa lampau yang tersimpan dalam peninggalan yang berupa karya tulisan. Konsep tentang ‘kebudayaan’ di sini dihubungkan antara lain dengan buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adat kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. [8]

Informasi mengenai masa lampau suatu masyarakat, yang meliputi berbagai segi kehidupan dapat diketahui oleh masyarakat masa kini melalui peninggalan-peninggalan, baik yang berupa benda-benda budaya maupun karya-karya tulisan. Karya tulisan pada umumnya menyimpan kandungan berita masa lampau yang mampu memberikan informasi secara lebih terurai.

Apabila informasi yang terkandung dalam karya-karya tulisan mempunyai cakupan informasi yang luas, menjangkau berbagai segi kehidupan masa lampau, maka pengetahuan yang dipandang mampu mengangkat informasi yang luas dan menyeluruh itu dipahami sebagai kunci pembuka pengetahuan.

Dalam pandangan inilah pengkajian terhadap teks-teks yang tersimpan dalam peninggalan tulisan masa lampau tersebut disebut sebagai pintu gerbang untuk mengungkapkan khazanah masa lampau. Karena karakteristik naskah-naskah lama sebagai hasil kebudayaan diduga kuat banyak mengandung buah pikiran, perasaan, tradisi, adat-istiadat, dan budaya yang pernah ada sebelumnya.

  • Filologi dalam Usaha Melakukan Kritik Teks Naskah Kuno

Kritik teks adalah telaah ilmiah terhadap teks-teks lama. Kegiatan-kegiatan dalam melakukan kritik teks antara lain:

  1. Menjelaskan
  2. Menafsirkan
  3. Reproduksi
  4. Rekonstruksi
  5. Kontekstualisasi

Ada dua jenis filologi dalam hal mengkaji suatu naskah kuno, yaitu filologi tradisional dan filologi modern. Filologi tradisional menjadikan naskah terbaca, tersunting, dan teredit (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Sementara itu filologi modern mengungkapkan kandungan produk budaya masa lampau.

Untuk penelitian filologi modern, kritik teks mempunyai paradigma tersendiri, yakni untuk menentukan gambaran resepsi pembaca pada teks-teks yang ditemukan. Karena resepsi erat kaitannya dengan waktu, maka langkah yang pertama dilakukan adalah menentukan urutan umur naskah-naskah, bila memungkinkan. Dengan ditemukannya urutan umur naskah, maka penentuan model resepsi akan menjadi lebih mudah.

Kritik teks filologi modern tidak menganggap berbagai varian sebagai suatu  kesalahan, melainkan sebagai wujud nyata adanya resepsi pembaca. Karena itu, kritik teks berusaha membandingkan perbedaan-perbedaan bacaan dan isi teks untuk menyusun suatu perubahan pandangan terhadap teks.

Metode kritik teks filologi modern ini dikenal dengan metode intertekstual, yakni membandingkan teks-teks yang ada sebelumnya  (hipogram) dengan teks-teks yang merupakan wujud resepsi. Jadi, kritik teks filologi modern sama sekali tidak berusaha merekonstruksi teks, melainkan berusaha mendeskripsikan resepsi pembaca dari kurun waktu tertentu ke kurun waktu yang lain. Dengan kata lain kritik teks dalam filologi modern dilakukan dengan cara menentukan teks-teks urutan umur teks sehingga tersusun perkembangan teks dari masa ke masa.

Setelah penyusunan naskah berdasarkan umur, dilakukan pengelompokan naskah berdasarkan versi-versi. Hal ini sangat perlu dalam filologi modern, karena versi-versi ini menunjukkan perkembangan teks sehingga perlu dideskripsikan.

Teks yang akan disunting adalah teks yang yang mewakili gambaran perkembangan teks yang paling menonjol atau sesuai dengan tujuan penelitian. Suntingan dalam filologi modern dapat hanya satu saja, namun dimungkinkan untuk membuat beberapa suntingan sesuai dengan gambaran perkembangan teks yang hendak dikemukakan.

Suntingan naskah tunggal dengan edisi diplomatik ini dapat digunakan untuk suntingan dengan prinsip filologi modern karena dalam filologi modern, karakteristik suatu naskah yang mencerminkan situasi sosial budaya suatu masa justru lebih dihargai. Suntingan dalam filologi modern dimungkinkan adanya lebih dari satu suntingan untuk satu judul teks, misalnya teks yang mencerminkan suatu versi atau perbedaan redaksi.

Suntingan juga dapat disajikan dengan edisi kritis dengan tetap menjaga karakteristik teks. Tidak ada usaha pembakuan karena teks unsur dalam teks dianggap sebagai data otentik. Pembetulan hanya terbatas pada hal-hal teknis.

Intinya kritik teks adalah usaha untuk mengkritik teks yang telah dibuat oleh pengarang apakah sudah sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan atau belum. Jika teks tersebut belum sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan, maka tugas pengkritik tekslah untuk meralatnya sesuai dengan peraturan yang ada.

Filologi dan kodikologi sangat berhubungan dalam usaha penyelamatan dan pelestarian naskah kuno. Jika kodikologi mengkaji naskah kuno dari segi fisiknya, maka filologi mengkaji naskah kuno mengenai isi kandungan naskah kuno tersebut.

B. PENGALAMAN DIGITALISASI NASKAH KUNO DI PPIM UIN JAKARTA

Ketika mengikuti proses perkuliahan Filologi tanggal 30 April 2010 di PPIM UIN Jakarta, terlihat bahwa ternyata ada sebuah upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan naskah kuno. Hal ini tak pernah terpikirkan sebelumnya, karena sepengetahuan Saya naskah kuno selain dipamerkan di museum tapi juga disimpan di perpustakaan.Kalaupun dilakukan upaya penyelamatan, itu hanya sebatas upaya pelestarian yang dilakukan di perpustakaan, sebab naskah kuno termasuk salah satu bahan pustaka bukan buku.

Upaya yang dilakukan dalam preservasi naskah kuno di PPIM UIN Jakarta termasuk unik, karena dilakukan oleh kalangan non-perpustakaan melainkan sekelompok peneliti yang memiliki latar belakang Sastra Arab dan Filolog yang menamai diri Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Ternyata upaya pelestarian tidak saja dilakukan oleh pustakawan.

Preservasi yang diperlihatkan dalam proses perkuliahan ketika itu adalah pendigitalan naskah kuno per halaman dengan menggunakan kamera digital jenis Canon yang digantungkan di copystand (alat untuk mengkopi secara digital). Perangkat tersebut dihubungkan ke komputer yang sudah diinstal software kompatibel dengan tipe kamera. Misalnya kamera Canon EOS, software yang digunakan adalah EOS Utility untuk pengambilan foto dan Digital Photo Professional untuk pengolahannya.

Ketika itu diajarkan bagaimana naskah diatur posisinya di copystand agar margin-nya rata sebelum diambil gambar. Serta pengaturan cahaya, menurut mentor yang mengajarkan cara digitalisasi, cahaya harus alami. Artinya cahaya tidak boleh terlalu terang atau terlalu gelap.

Setelah proses capturing selesai hasilnya ternyata bukan gambar dengan format JPEG, tapi gambar dengan format RAW. Selama ini yang Saya tahu format gambar hanya JPEG dan GIF.

Menurut mentor, RAW merupakan format foto ‘mentah’ yang menyerap berbagai macam warna, cahaya, dan lain-lain dari gambar tersebut secara sempurna. Format RAW ini juga harus dikonversi ke bentuk TIFF, jika ingin digunakan di perpustakaan, atau JPEG untuk konsumsi awam. Format RAW ini ukurannya sangat besar, atau tiga kali lipat dari ukuran gambar JPEG. Selain itu, gambar format RAW jika diubah ke format di bawahnya (TIFF atau JPEG), kerapatan pikselnya juga berkurang disesuaikan dengan ukuran atau size.

Selain dari mentor, dosen mata kuliah Filologi, Pak Oman Fathurahman, menjelaskan tentang tipe kamera. Tipe kamera ada 2, yaitu DSLR (Digital Single Line Reflex) dan EOS. Pak Oman juga menunjukkan tripod (berkaki tiga) yang gunanya untuk menahan beban kamera agar gambar yang dihasilkan stabil.

Di sela-sela menjelaskan mengenai tripod, Beliau menjelaskan juga media penyimpanan hasil digitalisasi naskah. Menurutnya, karena ukuran gambar atau foto naskah sangat besar, tidak cukup dengan menggunakan DVD karena kapasitasnya kecil. Sehingga diperlukan memori eksternal yang memiliki kapasitas besar, yang katanya memiliki harga ± rp. 1.000.000,-.

Setelah di bagian pendigitalan naskah, diperkenalkan juga cara pengkatalogan naskah kuno yang berbeda dengan proses katalogisasi di perpustakaan. Di PPIM ini, sebelum naskah dibuat katalog online, terlebih dahulu data-datanya ditulis dalam lembar isian metadata atau borang. Dalam borang itu terdapat beberapa kolom dan baris yang harus diisi. Yang perlu diisi selain judul naskah dan pengarangnya, juga dicantumkan cap kertas, bahasa yang digunakan, jenis tulisan, latar belakang pengarang, dan lain-lain. Untuk mengisi borang ini harus ahli dalam suatu bahasa. Jika ingin mengkatalogan naskah berbahasa Arab, tentu harus bisa berbahasa Arab.

Berbeda dengan proses katalogisasi di perpustakaan, bentuknya berupa beberapa paragraf yang mencantumkan seluruh identitas suatu bahan pustaka, baik dari segi fisik maupun isi. Dari segi fisik berupa deskripsi fisik, dan dari segi isi berupa pendekatan subyek serta notasi. Pada katalog di perpustakaan tidak mencantumkan latar belakang pengarang seperti di borang.

Selama perkuliahan berlangsung, Saya melihat beberapa naskah kuno yang sedang dalam proses katalogisasi. Para mahasiswa diperbolehkan membuka dan melihat naskah kuno tersebut, serta diminta untuk mengkatalognya oleh Pak Oman.

Sebelum perkuliahan selesai, Pak Oman menunjukkan sebuah situs yang dapat dijadikan referensi untuk mata kuliah Filologi atau untuk mengetahui tentang naskah-naskah nusantara, yaitu www.manassa.org.

C. RENCANA DIGITALISASI NASKAH KUNO

Setelah mengikuti perkuliahan di PPIM UIN Jakarta, ada sebuah rencana Saya untuk mendigitalkan naskah-naskah kuno di daerah asal Saya, provinsi Kepulauan Riau dengan ibukota Tanjungpinang. Kota Tanjungpinang berada di Pulau Bintan provinsi Kepulauan Riau. Di seberang Pulau Bintan terdapat Pulau Penyengat, yang dapat dilihat jelas dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Kota Tanjungpinang karena jaraknya yang tidak jauh.

Di Pulau Penyengat itu terdapat sebuah perpustakaan yang menyimpan naskah-naskah kuno Melayu karya masyarakat Melayu Kepulauan Riau zaman dulu berbahasa Melayu dengan tulisan Arab-Melayu. Di perpustakaan itu terdapat naskah Gurindam Dua Belas yang terkenal karya Raja Ali Haji yang terdiri dari dua belas pasal.

Sejauh yang Saya tahu, naskah-naskah kuno di Pulau Penyengat itu sudah ada dalam bentuk microfilm yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Namun, setelah Saya telusuri lagi di internet ternyata naskah-naskah tersebut sudah didigitalkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Artikel “Koleksi Naskah Kuno di Perpustakaan Nasional RI” oleh Suprihati diunduh tanggal 18 April 2010 di www.scribd.com

Artikel berjudul “Perkembangan Hardware Komputer” oleh Ivan Sudirman hlm. 6 diunduh di www.ilmukomputer.com

Moch. Syarif  Hidayatullah. 2007. Diktat Teori dan Permasalahan Penerjemahan Jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta

Power Point berjudul “Preservasi dan Konservasi Koleksi Perpustakaan dan Arsip” berdasarkan buku Ross Harvey tahun 1993

Power  Point berjudul “Pendekatan Filologi dalam Studi Islam” oleh Muhammad Walidin, M.Hum., dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab UIN Yogyakarta

Power Point berjudul “Studi Kasus tentang Pengalaman Yayasan Sastra” disampaikan di  Pelatihan Digitisasi Naskah dan Pengembangan Portal  Naskah Nusantara Juni 2009 di Surakarta

Power Point berjudul Penataan Koleksi Naskah Kuna di Perpustakaan Nasional RI” oleh Sanwani disampaikan dalam mata kuliah Filologi Jurusan Ilmu Perpustakaan FAH UIN Jakarta pada 13 April 2010

Proposal Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13 Juli 2010 oleh Oman Fathurahman

Sulistyo Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 


[1] Artikel “Koleksi Naskah Kuno di Perpustakaan Nasional RI” oleh Suprihati diunduh tanggal 18 April 2010 di www.scribd.com

[2] Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm 271

[3] Sulistyo Basuki, Op. Cit., hlm. 271

[4] Power Point berjudul “Studi Kasus tentang Pengalaman Yayasan Sastra” disampaikan di  Pelatihan Digitisasi Naskah dan Pengembangan Portal  Naskah Nusantara Juni 2009 di Surakarta

[5] Rosi 9 Agustus 2007

[6] Artikel berjudul “Perkembangan Hardware Komputer” oleh Ivan Sudirman hlm. 6 diunduh di www.ilmukomputer.com

[8] Power  Point berjudul “Pendekatan Filologi dalam Studi Islam” oleh Muhammad Walidin, M.Hum., dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab UIN Yogyakarta


[*] Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.