Oleh Wahyu Minarno[*]

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan coba diuji sejauh mana kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman. Hari ini Indonesia sedang dihadapkan dengan persoalan sangat serius,, yaitu globalisasi. Memang sebagai anak kandung yang terlahir dari rahim modernisasi, globalisasi tidak hanya membawa dampak negatif, ia juga berimplikasi positif terhadap beberapa sektor kehidupan. Berada pada situasi global yang penuh dengan tantangan dan ancaman seperti hari ini, di manakah HMI semestinya memposisikan diri? Dihadapkan dengan budaya masyarakat yang secara evolutif mengalami pergeseran kecenderungan, bagaimana seharusnya HMI mengambil sikap? Kemudian, strategi perjuangan seperti apakah yang akan diperankan oleh HMI sehingga keberadaannya masih bisa dikatakan relevan? Beberapa pertanyaan tersebut masih setia menanti kepastian jawaban dari HMI, sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia.

Tujuan HMI

Sebagaimana organisasi lain, tujuan HMI merupakan ekspektasi tiap-tiap individu yang berada di dalamnya, yang kemudian secara kolektif bertemu hingga lahirlah tujuan bersama, yaitu tujuan organisasi. Bagi HMI, tentu tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang bersifat jangka panjang. Tujuan yang mengarah kepada perubahan kebudayaan dengan masyarakat sebagai basis utamanya. Oleh karena itu, membentuk dan memperkuat masyarakat adalah salah satu target yang hendak dicapai oleh HMI.

Secara tekstual tujuan HMI adalah terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka HMI memilih dan menetapkan fungsinya sebagai organisasi perkaderan. Adapun peran HMI adalah organisasi perjuangan. Kaderisasi di HMI sebisa mungkin diarahkan kepada terbentuknya lima kualitas insan cita, yaitu insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernapaskan Islam, serta insan yang bertanggung jawab terhadap perwujudan tujuan organisasi. Titik tekan kualitas HMI terletak pada pengabdiannya, yaitu pengabdian yang bersifat semata-mata hanya untuk mencapai rida dari Allah SWT. Masa yang paling tepat untuk menjalankan tugas pengabdian HMI, adalah saat para kader di dalamnya telah menjadi alumni, yang dapat melakukan peran perjuangan melalui berbagai sektor kehidupan.

Posisi HMI

Ketika meletakkan Islam sebagai azasnya, minimal terdapat tiga ideologi besar dunia dimana HMI dituntut untuk memilih salah satu di antaranya sebagai sebuah sintesis, yaitu Islam, sosialisme, dan kapitalisme. Dalam konteks global seperti telah disinggung sebelumnya, HMI dituntut untuk mampu menegaskan letak posisinya selain di tengah ketiga ideologi di atas, juga di tengah masyarakat, pasar dan negara. Secara sederhana, kapitalisme dapat diartikan sebagai sebuah upaya dalam menciptakan kelompok elit yang lebih sedikit daripada kelas menengah dan kelompok lemah (logika piramida). Hal inilah yang di kemudian hari melahirkan ketimpangan di masyarakat. Oleh karena itu, oleh sebagian kalangan, khususnya HMI, kapitalisme ditolak dan dianggap sebagai sebuah tesis yang membutuhkan antitesis.

Antitesis dari kapitalisme adalah sosialisme. Namun ketika sosialisme kemudian meniscayakan adanya penghapusan kelas untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, yang pada akhirnya tetap akan melahirkan ketimpangan dengan melahirkan kelas-kelas penguasa baru yang menindas (logika piramida terbalik), itu pun oleh HMI belum sepenuhnya dianggap sebagai sebuah solusi yang efektif. Terakhir adalah Islam. Harapan terhadap Islam untuk mampu menjadi sintesis dengan adanya kesejajaran antara elit, kelas menengah, dan kelompok lemah, mau tidak mau menuntut HMI untuk lebih cenderung kepadanya.

Pertanyaannya kemudian adalah, di manakah posisi HMI dalam ketiga kategori di atas? Jika harapannya adalah adanya kesejajaran atau kesetaraan antara elit, kelas menengah, dan kelompok lemah, maka sebagai kelas yang mampu menceburkan diri ke dalam dua kelas yang lain, kelompok menengahlah yang seharusnya mengambil peran lebih. Kelas menengah itulah yang mungkin selama ini diistilahkan sebagai civil society. HMI merupakan bagian dari civil society yang dimaksud. Dengan demikian maka jelas sekali di manakah HMI seharusnya mengambil posisi di antara beberapa ranah seperti telah disebutkan sebelumnya.

Peran HMI

Sebagai bagian dari kelas menengah atau civil society, seharusnya HMI memiliki kapasitas lebih jika dibandingkan dengan kelompok lemah. Selain itu, ketika berhadapan dengan para elit, HMI dituntut untuk mampu mengimbangi kekuatan yang ada di dalamnya. Terhadap kelompok elit, HMI dapat menjalankan peranannya sebagai pemberi kontrol serta kontributor kebijakan melalui kritik dan jalur-jalur lain. Karena HMI adalah organisasi intelektual, maka peran artikulatif sebagai intelektual organiklah yang semestinya diterapkan terhadap kelompok lemah, yang dalam hal ini adalah masyarakat mustadhafiin. Jika ke atas HMI melakukan kontrol dan memberikan kontribusi, maka ke bawah ia akan membentuk dan memperkuat masyarakat melalui upaya-upaya edukasi, advokasi, dan empowering ‘pemberdayaan’.

Melalui peran artikulatifnya, HMI diharapkan mampu memberikan penyadaran baik terhadap masyarakat maupun negara terkait berbagai tantangan sekaligus ancaman yang dihadirkan globalisasi. Sehingga masyarakat dan negara akan benar-benar siap untuk menghadapi setiap tantangan dan ancaman.

Jika hal tersebut tidak dilakukan oleh HMI, tidak menutup kemungkinan akan terjadi tiga hal. Pertama, negara dan masyarakat akan semakin melemah kemudian dilibas begitu saja oleh globalisasi. Kedua, negara akan tetap atau semakin kuat dengan melakukan perselingkuhan dengan neoliberalisme yang pada gilirannya mengorbankan masyarakat. Ketiga, HMI akan menjadi bagian dari kemungkinan kedua. Parahnya, hingga hari ini, kemungkinan ketiga itulah yang paling berpotensi untuk menjadi kenyataan ketika HMI tidak mampu berbuat apa-apa dan justru merapat dengan kekuasaan yang ada.

Strategi Perjuangan

Bentuk perjuangan yang dapat dipilih oleh HMI tentu sangatlah beragam. Ia bisa terlibat ke dalam sektor politik, pendidikan, sosial, ataupun sektor lainnya. Itulah keuntungan HMI. Dengan sifat independen, HMI tidak terikat dan mampu bergerak ke mana pun ia mau. Meskipun demikian, perjuangan yang dilakukan oleh HMI tetap harus menggunakan strategi. Jika tidak, maka ia tetap akan dilibas oleh zaman. Mengingat neoliberalisme hari ini menjadi tuan yang paling berkuasa, HMI bisa saja bersikap resisten terhadap neoliberalisme, meskipun upaya tersebut selama ini belum cukup efektif dilakukan. Bahkan, semangat perlawanan terhadap neoliberalisme pun telah menjadi komoditas dimana HMI sendiri adalah salah satu entitas konsumennya. HMI bisa juga berdamai dengan neoliberalisme dengan menghamba kepadanya. Konsekuensinya, masyarakat yang seharusnya diperjuangkan hak-haknya tetap menjadi korban utama. Berikutnya, HMI mengambil langkah alternatif untuk tetap bisa memanfaatkan keberadaan neoliberalisme, dan secara perlahan berusaha melemahkannya, atau seminimal mungkin mengatur agar keseimbangan antara elit, kelas menengah, dan kelompok lemah tetap terjaga.

Tentu saja bentuk konkret dari langkah alternatif tersebut sangatlah beragam. Hal tersebut dapat disesuaikan dengan potensi dan kapasitas yang dimiliki HMI. Jika beberapa hal di atas dilakukan dengan komitmen yang tinggi, juga konsisten dan bersama, maka boleh dikatakan bahwa HMI akan tetap mampu menjawab segala bentuk tantangan zaman.


[*] Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2010-2011

 

Sumber