Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

1. Pengertian Tasawuf

Istilah “tasawuf” (sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian.

Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.

Adapun definisi tasawuf menurut para ulama adalah:[1]

  1. Ma’ruf al-Karkhi mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil hakikat dan meninggalkan yang ada di tangan makhluk”
  2. Muhammad Amin Kurdi mendefinisikan tasawuf sebagai “suatu ilmu yang dapat mengetahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan yang terpuji dengan melakukan perjalanan menuju Allah dan meninggalkan larangannya menuju kepada perintah-Nya”
  3. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”

Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian “hati” dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya.

Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan “hati”-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw.

2. Dasar Pokok Tasawuf

Konsep tasawuf merupakan tauhid yakni mengesakan Allah dari makhluk dengan jalan seperti khauf , raja’, taubah, zuhud, syukr, dan ridla. Dalam al-Qur’an dibahas mengenai jalan-jalan menuju proses mengesakan Allah seperti tersebut di atas, yaitu:[2]

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. (as-Sajdah : 16)

… “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (al-Anbiya : 25)

3. Isi Pokok Ajaran Tasawuf[3]

  • Tasawuf Akhlaqi
  1. Takhalli: membersihkan diri dari sifat-sifat tercela
  2. Tahalli: mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji
  3. Tajalli: terungkapnya nur gaib untuk hati

a.       Munajat: melaporkan aktivitas diri pada Allah

b.      Muraqabah dan muhasabah: selalu memperhatikan dan diperhatikan Allah dan menghitung amal

c.       Memperbanyak wirid dan zikr

d.      Mengingat mati

e.       Tafakkur: merenung/meditasi

  • Tasawuf ‘Amali

Ø Beberapa Istilah praktis

  1. Syari’ah: mengikuti hukum agama
  2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
  3. Haqiqah: aspek batiniah dari syari’ah
  4. Ma’rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati

 

Ø Jalan Mendekatkan diri kepada Allah

1.  Maqamat: tahapan, tingkatan

a. Taubah: pembersihan diri dari dosa

b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi

c. Sabr: pengendalian diri

d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah

e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela

f. Mahabah: cinta kepada Allah

g. Ma’rifah: mengenal keesaan Tuhan

2.  Ahwal: kondisi mental

a. Khauf: merasa takut kepada Allah

b. Raja’: optimis terhadap karunia Allah

c. Syauq: rindu pada Allah

d. Uns: keterpusatan hanya kepada Allah

e. Yaqin: mantapnya pengetahuan tentang Allah

  • Tasawuf Falsafi
  1. Fana’ dan Baqa’: lenyapnya kesadaran dan kekal
  2. Ittihad: persatuan antara manusia dengan Tuhan
  3. Hulul: penyatuan sifat ketuhanan dg sifat kemanusiaan
  4. Wahdah al-Wujud: alam dan Allah adalah sesuatu yang satu
  5. Isyraq: pancaran cahaya atau iluminasi

4. Maqamat dalam Tasawuf

Maqamat adalah usaha yang dilakukan dengan kerja keras dan keluhuran budi pekerti untuk membawa kepada tujuan akhir tasawuf. Meskipun kesemuanya diawali dari maqam taubat, perbedaannya terjadi dalam keadaan dan urutannya. Di antaranya adalah:

I. As Siraj Ath Thusi

Merupakan yang paling awal yang mengemukakan tentang maqamat dan macamnya. Aliran ini menganut tujuh maqamat, yaitu:

  1. Taubat
  2. Wara’
  3. Zuhud
  4. Fakir
  5. Sabar
  6. Tawakal
  7. Ridha

II. Abu Thalib Al Makki

Aliran ini menganut sembilan maqamat, yaitu:

  1. Taubat
  2. Sabar
  3. Syukur
  4. Harapan (raja’)
  5. Takut (khauf)
  6. Zuhud
  7. Tawakal
  8. Ridha
  9. Cinta (mahabbah)

III. As Suhrawardi

Aliran ini menganut sepuluh maqamat, yaitu:

  1. Taubat
  2. Wara’
  3. Zuhud
  4. Sabar
  5. Fakir
  6. Syukur
  7. Takut (khauf)
  8. Harapan (raja’)
  9. Tawakal
  10. Ridha

IV. Imam Al Ghazali

Aliran ini menganut sepuluh maqamat, yaitu:

  1. Taubat
  2. Sabar
  3. Syukur
  4. Harapan (raja’)
  5. Takut (khauf)
  6. Fakir
  7. Zuhud
  8. Tauhid
  9. Tawakal
  10. Cinta (mahabbah)

[1] M. Jamil., Cakrawala Tasawuf ; Sejarah, Pemikiran, dan Kontekstualitas, Ciputat : Gaung Persada Press, 2004, h. 5-6

[2] Ibid., h. 10-11

[3] Asmaran As., Pengantar Studi Tasawuf, Rajawali Pers, 1996, h.65-176

Artikel ini dipublikasikan juga di sini