Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia itu tergantung pada kualitas pendidikannya. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa.

Kemajuan bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pembaharuan pendidikan di Indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA

Latar Belakang

Bahasa sebagai salah satu identitas, di mana bahasa bisa menjadi identitas kolektif etnik, tetapi bahasa bisa juga menjadi identitas yang lebih luas dari etnik yaitu bangsa. Ciri yang menonjol dari identitas bangsa Indonesia tercermin dari adanya bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Walaupun dalam perkembangannya secara historis bahasa Indonesia yang baru muncul pada tahun 1928 dalam peristiwa Sumpah Pemuda kemudian mendapat beragam pengaruh kosa kata dari berbagai bahasa, akan tetapi bahasa Indonesia memiliki akar tradisi etnik yaitu bahasa Melayu.

Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.

Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam penggunaannya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut sehingga diperlukan sebuah transformasi pedoman penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Rumusan Permasalahan

  1. Apa permasalahan yang cenderung mendominasi penyalahgunaan bahasa  Indonesia ?
  2. Bagaimana metode penggunaan bahasa yang baik dan benar ?
  3. Bagaimana usaha pemerintah mengatasi permasalahan ini ?

Hipotesa

Termasuk salah satu problematika penyalahgunaan bahasa Indonesia yaitu perbedaan dialek yang berasal dari bahasa daerah masing-masing. Sebagai bangsa yang plural, memang dianggap wajar apabila permasalahan dialek bahasa daerah menjadi faktor utama atas penyalahgunaan bahasa Indonesia.

Namun lain halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia yang dianggap kalah karena semakin banyak orang menggunakan kata-kata bahasa Inggris sehingga teknik gramatikal dan fonetik bahasa Indonesia jauh berbeda dibanding bahasa aslinya yaitu bahasa Melayu.

Dalam permasalahan ini, pengaruh sejarah menjadi ujung tombak dalam menguak masalah ini. Adanya akulturasi budaya dan penjajahan di masa lalu adalah salah satu diantara penyebab tercampurnya bahasa Indonesia dengan bahasa asing, sehingga bahasa Inggris, Belanda, Portugis, dan Arab banyak mendominasi percampuran kultur bahasa Melayu sebagai asal dari bahasa Indonesia.

Keterampilan berbahasa dapat dimulai dari sektor pendidikan, yakni peningkatan kemampuan pengajar untuk mengarahkan anak didiknya menuju penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan memperbanyak penyebutan kosa kata bahasa Indonesia serta mengurangi penyebutan bahasa asing dalam proses belajar mengajar.

Lain halnya dengan pengajaran ilmu eksak, psikologi, dan filsafat yang terkadang mengandung beberapa asing dalam pengajarannya. Namun hal tersebut ternyata dapat ditutupi dengan adanya proses penterjemahan sebelum kata-kata tersebut sampai kepada anak didik.

Memperbanyak porsi membaca – utamanya literatur-literatur yang berbahasa Indonesia – dirasakan dapat menutupi permasalahan penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini dapat dipastikan karena dengan peningkatan porsi membaca akan membuat pembacanya menjadi terbiasa dengan bahasa-bahasa yang ia peroleh sehingga aplikasi ketika berbicara akan terbiasa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam mendukung peningkatan porsi membaca, ketrampilan menulis merupakan salah satu solusi yang dianggap perlu untuk dikembangkan dalam mengatasi masalah penggunaan bahasa. Peningkatan ketrampilan menulis karya ilmiah dengan didukung ketrampilan membaca cepat serta dukungan pengajar dalam membimbing anak didiknya dalam meningkatkan ketrampilan berbahasa akan dapat menutupi permasalahan penggunaan bahasa.

Pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan atas penggunaan bahasa Indonesia dalam setiap kongres-kongres yang membahas perkembangan bahasa Indonesia dengan terus memperbaharui serta mengkaji segala kemungkinan peran bahasa Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang, sehingga bahasa Indonesia tidak akan menjadi asing seiring dengan perkembangan waktu.

Belum adanya perhatian serius dari setiap elemen masyarakat membuat posisi bahasa Indonesia menjadi asing di negerinya sendiri. Peringatan Sumpah Pemuda yang secara rutin dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya serta usaha-usaha pemerintah tersebut di atas, dinilai belum memenuhi target dalam usaha memaksimalkan peran bahasa Indonesia dalam setiap aktivitas.

Metodologi

Dalam kajian Analisis Penggunaan Bahasa ini digunakan metodologi kajian literatur dengan mengambil sumber dari artikel-artikel media elektronik (website).

Kajian Literatur

Etnik atau ethnic groups secara umum dipahami sebagai masyarakat suku, atau masyarakat yang secara tradisi memiliki persamaan identitas. Wujud identitas itu misalnya bahasa, tempat tinggal, pola kekerabatan, pola perkawinan, religi, arsitektur rumah, pola tempat tinggal, dan lain-lain.

Bahasa Indonesia tentu saja memiliki karakter khusus karena dia berakar dari tradisi etnik lokal yang kemudian dimodifikasi dan diadopsi menjadi bahasa persatuan yang berfungsi sebagai perekat keberagaman etnik. Bahasa Indonesia bersifat fleksibel dan ini tampak dalam berbagai dialek misalnya bahasa Indonesia dialek Betawi, dialek Sulawesi Selatan, dialek Palembang, dialek Papua dan sebagainya. (http://www.duniaesai.com/antro/antro2.htm)

Bahasa Indonesia yang  dipakai  oleh  semua  lapisan  masyarakat menunjukkan perkembangan berbagai ragam bahasa yang kaidah-kaidahnya lebih rumit daripada yang disangka orang. Kaidah bahasa yang tercantum dalam buku tata bahasa dan yang diajarkan di sekolah, tidak sepenuhnya lagi mencerminkan kenyataan orang berbahasa dewasa ini.

Ketidakserasian antara kaidah dan pemakaian bahasa yang beragam-ragam itu kadang-kadang melahirkan kesangsian orang dalam pemakaian bahasa yang baik dan benar. (http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id)

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa diakui oleh umum. Menulis merupakan keterampilan yang mensyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Dalam belajar bahasa, menulis merupakan kemahiran tingkat lanjut. Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan ini berkaitan dengan keterampilan lain, yakni membaca. Dalam kurikulum, keterampilan ini bisa diwujudkan dalam bentuk materi menulis.

Sebagaimana materi lainnya, materi ini pun seharusnya disajikan secara bertahap. Karena menulis merupakan keterampilan lanjutan yang cukup kompleks, materi yang diajarkan sebelumnya harus benar-benar dipahami dahulu oleh pembelajar mengingat materi tersebut menjadi prasyarat, misalnya menyusun kalimat. Dalam hal ini, metode dan teknik mengajar yang tepat bisa memberikan hasil yang baik terhadap penggunaan bahasa. (Wahya : www.ialf.edu/kipbipa/papers/Wahya.doc)

Menurut Halliday (1975) siswa itu belajar berbahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi siswa untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional. (www.puskur.net/naskahakademikbindonesia.doc)

Menurut beberapa pengamat masalah ini timbul antara lain karena semakin tipisnya nasionalisme di kalangan orang Indonesia pada umumnya. Mereka ingin mencapai kesuksesan dengan jalan pintas walaupun pengetahuan dan pengalamannya tidak seberapa. Mereka tidak segan-segan meniru, melahap, bahkan menghamba pada apa pun yang berasal dari luar negeri.

Salah satu usaha minimal pemerintah Orde Baru untuk mengembangkan bahasa Indonesia adalah melakukan standarisasi. Sebuah lembaga dengan dana dan ruang gerak terbatas, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), berhasil menyusun daftar kata bahasa Indonesia yang bisa mengganti bahasa asing untuk istilah-istilah teknis.

Selanjutnya, upaya Pusat Bahasa mengangkat kembali derajat bahasa Indonesia adalah menjadikan kemampuan berbahasa Indonesia syarat bagi orang asing untuk bekerja atau belajar di Indonesia.

Semua orang asing harus mempelajari bahasa Indonesia dan mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Indonesia (UKBI) supaya bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang lokal dan melakukan alih teknologi. (http://warta.unair.ac.id/artikel/index)

Analisis

Beberapa faktor yang menjadi permasalahan penyalahgunaan bahasa, yaitu :

  1. Wujud bangsa yang plural sehingga menimbulkan perbedaan dialek pengucapan bahasa Indonesia yang berimbas pada kesalahan dalam menulis.
  2. Kurangnya porsi dan minat membaca dan menulis dari setiap elemen masyarakat.
  3. Semakin tipisnya nasionalisme di kalangan orang Indonesia pada umumnya.
  4. Kurangnya perhatian masyarakat atas usaha dan sosialisasi pemerintah untuk memaksimalkan peran bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Fenomena dan kondisi plural atas budaya bangsa Indonesia merupakan salah satu dari beberapa faktor penyalahgunaan penggunaan bahasa Indonesia disamping merebaknya invasi bahasa asing terhadap bahasa Indonesia.

Hal ini memerlukan perhatian serius dari beberapa kalangan agar bahasa Indonesia dapat kembali kepada kodratnya sebagai bahasa persatuan dan identitas diri dari bangsa Indonesia. Usaha ini dapat dimulai dari sektor pergaulan (sosial) dan dilanjutkan kepada sektor pendidikan yang menjadi tumpuan agar bahasa Indonesia tetap bertahan bahkan dapat memperluas perannya menjadi bahasa yang eksis dan terus berkembang.

PENUTUP

Berawal dari merosotnya atau musnahnya kebanggaan akan identitas yang berupa Bahasa Indonesia maka bisa jadi ini adalah awal dari disintegrasi negara Indonesia. Tidak ada lagi alat komunikasi sesama warga Indonesia yang menjadi kebanggaan bersama, masing-masing merasa bangga dengan bahasa daerahnya atau bangga dengan bahasa mancanegara sehingga bahasa Indonesia akan ditinggalkan.

Peran masyarakat untuk terus mendukung dan membantu pemerintah untuk mengkaji dan mengembangkan bahasa Indonesia sangat diharapkan demi terjaganya integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA