Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Agama Islam telah muncul di kepulauan Nusantara sekitar abad ke-8 dan 9 M dibawa oleh para pedagang Arab dan Parsi. Namun baru pada abad ke-13 M, bersamaan dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai (1272-1450 M), agama ini mulai berkembang dan tersebar luas. Di kerajaan Islam besar tertua inilah peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan mekar.

Sebagai kota dagang yang makmur dan pusat kegiatan keagamaan yang utama di kepulauan Nusantara, Pasai bukan saja menjadi tumpuan perhatian para pedagang Arab dan Parsi. Tetapi juga menarik perhatian para ulama dan cendekiawan dari negeri Arab dan Parsi untuk datang ke kota ini dengan tujuan menyebarkan agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karangan-karangan bercorak tasawuf memiliki arti penting dalam sejarah tradisi intelektual Islam di Nusantara dan pembentukan kebudayaan Melayu. Pemahaman atas ajaran Islam secara lebih mendalam di kalangan terpelajar Nusantara dan terserapnya kebudayaan Melayu ke dalam Islam, banyak dibantu oleh kegiatan para sufi dan karangan-karangan yang mereka tulis dalam bahasa Melayu.

Namun demikian khazanahnya yang kaya itu sampai sekarang masih belum membangkitkan minat yang memadai di kalangan sarjana-sarjana Indonesia untuk menelitinya. Karena itu karya-karya tersebut kurang dikenal oleh kalangan terpelajar Muslim.

Tasawuf dan Sastra Melayu

Tasawuf adalah cabang ilmu-ilmu Islam yang membicarakan kodrat Tuhan dan kodrat manusia, serta kebajikan-kebajikan ruhani yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan hubungan yang karib dan mesra antara manusia dan Tuhan. Kebajikan-kebajikan ruhani itu dijelaskan melalui konsep maqamat atau peringkat-peringkat ruhani dan ahwal atau keadaan-keadaan ruhani yang dialami seorang ahli suluk dalam menempuh jalan tasawuf.

Pada abad ke 13–17 M, sejalan dengan luasnya penerimaan terhadap tasawuf oleh kalangan luas masyarakat Muslim, sastra sufi mulai mendaki puncak perkembangannya dalam kesusastraan Arab dan Persia. Pada masa-masa yang penuh pergolakan dan aktivitas penyebaran Islam yang begitu intensif di Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, muncul banyak sekali wali sufi, tokoh tariqat, ulama, dan filosof yang juga tampil sebagai sastrawan dan penyair besar.

Di Nusantara, bangkit dan berkembangnya kesusastraan Melayu merupakan dampak langsung dari penyebaran agama Islam. Para wali, ulama dan guru tasawuf memainkan peranan utama dalam penyebaran itu. Sejak awal pula para cendekiawan sufi itu memainkan peranan penting dalam penulisan kitab keilmuan dan sastra Melayu. Karena itu tidak mengherankan jika tasawuf memberikan warna dominan terhadap perkembangan sastra Melayu. Peranan itu berlanjut terus, setidak-tidaknya hingga akhir abad ke-19 M. Karya para penyair sufi itu bahkan masih meninggalkan jejak dan pengaruh dalam kesusastraan Indonesia modern hingga akhir abad ke-20 M.[1]

Salah satu karya intelektual Islam tertua yang dihasilkan di Pasai ialah Hikayat Raja-raja Pasai. Kitab ini ditulis setelah kerajaan ini ditaklukkan oleh Majapahit pada tahun 1365. Dilihat dari sudut corak bahasa Melayu dan aksara yang digunakan, karya ini rampung dikerjakan pada waktu bahasa Melayu telah benar-benar mengalami proses islamisasi dan aksara Jawi, yaitu aksara Arab yang dimelayukan, telah mulai mantap dan luas digunakan. Selanjutnya bahasa Melayu Pasai dan aksara Jawi inilah yang digunakan oleh para penulis Muslim di kepulauan Nusantara sehingga akhir abad ke-19 M sebagai bahasa pergaulan utama di bidang intelektual sebagaimana di bidang perdagangan dan administrasi.[2]

Pada akhir abad ke-16 M perkembangan sastra sufi mulai menapak masa puncaknya sejalan dengan derasnya proses islamisasi kepulauan Nusantara. Pada masa inilah muncul tokoh terkemuka seperti Hamzah Fansuri, dan murid-muridnya di Barus dan Aceh dengan sebagian besar karya-karya tersebut anonim, kecuali karangan dua murid Syekh Hamzah Fansuri, yaitu Abdul Jamal dan Hasan Fansuri. Di antara karya anonim itu ialah Syair Perahu (tiga versi), Syair Dagang, Ikat-ikatan Bahr al-Nisa, Syair Alif, dan lain-lain. Melalui karya-karyanya tersebut para sufi Melayu membentuk madzab tersendiri dalam penulisan puisi keruhanian dan menggunakan media syair, sajak empat baris yang mereka ciptakan sendiri dengan menggabungkan puitika pantun Melayu dan ruba’i Persia.[3]

Periode ini disebut oleh Braginsky sebagai periode ‘kesadaran diri’. Sebagai dampak dari proses islamisasi terhadap kebudayaan dan tradisi intelektual Melayu, kepengarangan individual (individual authorship) kian ditekankan dalam penulisan kitab keagamaan dan sastra, oleh karena Islam mengajarkan tanggungjawab individu pemeluknya dalam segala bidang kegiatan kemanusiaan.[4]

Pada masa ini kebudayaan Melayu sepenuhnya diintegrasikan ke dalam Islam. Kesusastraannya pun lantas menjadi bagian resmi dari kesusastraan Islam. Pengintegrasian ini ditandai dengan penggunaan sistem sastra yang dapat digambarkan sebagai sebuah lingkaran konsentrik, artinya memusat kepada sumbu yang satu. Di situ karya-karya penulis Melayu secara bersama-sama seolah membentuk sebuah lingkaran mengelilingi pusat yang satu, yaitu teks-teks keagamaan Islam yang penting seperti al-Qur’an dan tafsirnya, serta hadis, dan ilmu-ilmu yang diturunkan daripadanya. [5]

Corak Karya Sastra Sufi Melayu Abad 17-19 M

Braginsky menyebut sastra sufi sebagai karangan mengenai perjalanan seorang ahli suluk dalam mencapai kesempurnaan ruhani. Tujuannya ialah musyahadah, penyaksian bahwa Allah itu esa tanpa sekutu dan bandingan. Di dalamnya ‘makrokosmos’ dan ‘mikrokosmos” digambarkan melalui kata-kata, khususnya berkenaan dengan tatanan wujudnya yang diberi istilah seperti alam al-lahut, alam al-jabarut, alam al-malakut, dan alam al-nasut; atau perjalanan mendaki jiwa manusia dari alam yang paling rendah (alam al-nasut) menuju alam tertinggi (alam al-lahut).[6]

Sastra sufi menggambarkan pendakian ruhani menuju diri hakiki. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sastra sufi adalah jenis penulisan puitik yang berusaha mengungkap hakikat kebenaran dan keindahan dengan menggambarkan secara rinci sifat-sifat, tabiat dan hakikat alam jasmani yang martabatnya rendah serta hubungannya dengan kenyataan tertinggi yang dapat disaksikan dengan pengliihatan batin seseorang di kedalaman hatinya.[7]

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pelopor sastra sufi Melayu ialah Hamzah Fansuri, seorang sufi terkemuka, ahli agama, sastrawan besar dan pengembara. Dia dilahirkan di tanah Fansuri atau Barus, dan diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 dan 17 M. Sejak akhir abad ke-16 M tanah kelahirannya masuk ke dalam wilayah ke kerajaan Aceh Darussalam.[8]

Hamzah Fansuri termasuk seorang dari para perintis jalan baru. Karya-karyanya menjadi pertanda lahirnya era puisi Melayu Klasik tertulis sebagai suatu jenis sastra yang nyata dan mempunyai bentuknya tersendiri. Ia juga telah membuka cakrawala perkembangan prosa mistik keagamaan yang bersifat ilmiah.[9]

Syair-syairnya mempunyai beberapa ciri khusus yang dikemudian hari sebagian darinya melekat menjadi ciri umum syair-syair tasawuf Melayu. Di samping syair-syairnya menunjukkan bahwa pada zamannya proses islamisasi kebudayaan Melayu mulai mencapai puncaknya.

Ciri khas dari karya-karya sastra sufi Melayu pada abad ke 17-19 adalah adanya analogi atau perumpamaan alam sebagai upaya mentransformasikan pemikiran-pemikiran sufinya melalui kata-kata yang puitik dan mudah difahami.

Para sastrawan sufi berusaha menciptakan citra-citra dan terutama ibarat-ibarat sekaligus melestarikan golongan penduduk kota Melayu yang cakap dalam bidang pekerjaan masing-masing. Corak ini terlihat dalam syair Hamzah Fansuri:

Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus

Seperti kayu sekalian hangus

Asalnya laut tiada berarus

Menjadi kapur di dalam barus

Dalam syair tersebut dia menggunakan perumpamaan pohon barus yang merupakan penghasilan utama kota kelahirannya. Perumpamaan itu digunakan untuk menggambarkan pengalaman fana’, seperti dikatakannya “Seperti kayu sekalian hangus”.[10]

Sastrawan lainnya, Syamsuddin Pasai selalu mempertunjukkan dirinya sebagai ahli tasawuf yang berpegang pada pertimbangan logis dan sistematis serta didominasi motif-motif etika dan renungan-renungan abstrak dengan beberapa citra simbolik dan perumpamaan yang menarik. Salah satu daripadanya ialah persamaan beberapa bagian mata manusia dengan alam-alam dalam ontologi Sufi yaitu dengan menjadikan putih mata sebagai perumpamaan dari alam nasut, lingkungan hitam sekeliling selaput pelangi dengan alam malakut, selaput pelangi dengan alam jabarut, dan anak mata dengan alam lahut. Namun yang lebih menarik lagi ialah perumpamaannya tubuh manusia dengan kapal yang terdapat dalam Syair Perahu 2, yaitu:

Adapun jasad itu sebuah perahu, terperintah oleh nakhodanya: masing-masing perahu masing-masing nakhodanya. Kata Arab: al-Arwah fi al-Ajsad ka al-mallah fi al-safin, artinya: mustahillah dalam sebuah perahu dua nakhodanya. Maka demikian lagi dalam satu jasad manusia, mustahil adanya dua yang merentahkan dalamnya.[11]

Untuk membuat karyanya lebih mudah dipahami, dalam kitab Manhal al-Safi, Daud al-Fatani banyak menggunakan citra atau lambang yang berwarna-warni. Yang lebih ekspresif ialah pelukisannya secara simbolis tentang keakraban dengan Tuhan yang dicapai Salik dalam keadaan fana, ketika dia masuk ke dalam “istana” atau “rumahNya”, duduk pada sisiNya, pandang memandang dan bercakap akrab seperti dengan seorang sahabat. [12]

Dalam pengungkapan ide-ide tasawuf, para sastrawan memiliki sifat kehati-hatian dan kecermatan yang umumnya sangat khas baginya, sebagai mubaligh tasawuf yang selalu asing dari segala ekstremitas apapun itu. Ini bisa terlihat dari perbandingan antara Abd Rauf Singkel dan Hamzah Fansuri dalam memberikan penafsirannya tentang hadis: “Orang yang mengenal dirinya sendiri (Man ‘arafa nafsahu), dia pun mengenal Tuhannya (Fa-qad ‘arafa rabbahu)” sebagai berikut:

Abd Rauf Singkel

Hamzah Fansuri

Jika tuan menuntut ilmu, 

Ketahui dulu keadaanmu,

Man ‘arafa nafsahu kenal dirimu,

Fa-qad ‘arafa rabbahu kenal Tuhanmu,

Kenal dirimu muhadas semata,

Kenal Tuhanmu kadim Zatnya,

Tiada bersamaan itu keduanya,

Tiada semisal seumpamanya

Sabda Rasul Allah: Man ‘arafa nafsahu

Bahwasanya mengenal akan Rabbahu,

Jika sungguk engkau ‘abdahu,

Jangan kau cari illa Wajhahu

Wajah Allah itulah yang asal kata,

Pada wujudmu lengkap sekalian rata

Atau

Tuhan itu tiada bermakan,

Zahirnya nyata dengan rupa insan,

Man ‘arafa nafsahu suatu burhan,

Fa-qad ‘arafa rabbahu terlalu bayan

Tidak bisa kita tidak merasakan, betapa dengan penuh keyakinan Abd Rauf menegaskan tentang Sifat Kekekalan Tuhan di satu pihak, dan sifat kemakhlukan (muhadas) manusia di lain pihak, yang menyebabkan adanya perbedaan mutlak di antara kedua-duanya itu.[13]

Setiap jenis penulisan memiliki ciri yang ditentukan oleh cara penyajian, penggunaan tamsil, dan tujuan yang berbeda-beda dalam hubungannya dengan aspek-aspek kehidupan ahli suluk dan doktrin tasawuf yang mereka anut. Berdasarkan ini maka karya-karya sastra Melayu bercorak tasawuf dapat dikelompokkan setidak-tidaknya ke dalam enam kelompok, sebagai berikut:[14]

  1. Syair Makrifat. Biasanya campuran lirik dan sajak didaktis, dan cenderung naratif. Yang terkenal ialah syair Hamzah Fansuri, seperti Syair Burung Pingai, Syair Sidang Faqir, Syair Laut Ulya, Syair Barus Mekkah, Syair Sidang Asyik, Syair Ikan Tongkol, Syair Thayr al-Uryan, dan lain-lain.
  2. Syair Pujian Kepada Nabi Muhamad s.a.w.. Dimasukkan ke dalam karya bercorak tasawuf, karena karya seperti ini memang ditulis oleh para sufi dengan nafas dan simbol-simbol sufistik yang kental. Misalnya perumpamaan terhadap Nabi Muhammad s.a.w. sebagai matahari yang menerangi dunia, bulan purnama, kekasih Tuhan, teladan bagi sekalian ahli makrifat, dan lain sebagainya.
  3. Ratib atau Hagiografi Sufi. Ada yang ditulis dalam bentuk prosa berirama dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Dalam bentuk prosa dinamai hikayat. Dalam bentuk prosa berirama, yang terkenal di antaranya ialah Ratib Syekh Saman, Ratib Syekh Hamzah Fansuri, Ratib Syekh Naqsabandi, dan lain-lain. Sedangkan yang dalam bentuk prosa ialah Hikayat Luqman al-Hakim, Hikayat Rabi`ah al-Adawiyah, Hikayat Abu Yazid al-Bhistami, Hikayat Mansur al-Hallaj, dan lain-lain.
  4. Alegori sufi atau kisah perumpamaan sufi. Para penulis sufi sering menggubah cerita-cerita yang tergolong dalam roman atau pelipur lara menjadi alegori sufi, terutama untuk melukiskan tahapan-tahapan naik perjalanan ruhani mereka secara simbolik. Dalam sastra Melayu hikayat yang digubah menjadi alegori sufi antara lain ialah Hikayat Inderaputra, Hikayat Syah Mardan, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Badr al-Asyiq, Taj al-Muluk dan lain-lain.
  5. Risalah Tasawuf yang lazim dimasukkan ke dalam kelompok Sastra Kitab. Tidak sedikit sufi terkemuka menulis risalah tasawuf untuk menerangkan pemikiran atau aliran tasawuf mereka, begitu pula metode dan praktiknya. Beberapa sufi yang sangat masyhur sebagai penulis risalah ialah Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf al-Singkili, Yusuf al-Makassari, dan Abdul Samad dari Palembang.
  6. Karangan-karangan prosa berisi aneka corak pandangan sufi mengenai berbagai persoalan seperti metafisika, penciptaan alam semesta, sejarah, adab, eskatologi, hermeneutika, psikologi, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya ialah Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Kitab Seribu Masalah, Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri (Syamsuddin al-Sumatrani), Taj al-Salatin (Bukhari al-Jauhari), Bustan al-Salatin (Nuruddin al-Raniri), dan lain-lain.

Kesimpulan

Sastra sufi atau karya-karya yang disebut sebagai bercorak tasawuf dapat diberikan pengertian sebagai karangan-karangan mengenai peringkat-peringkat rohani (maqamat) dan keadaan-keadaan rohani (ahwal) yang dicapai serta dialami ahli-ahli suluk dalam menjalankan kebajikan ruhani di jalan tasawuf. Maqamat dan ahwal yang dicapai dan dialami itu disampaikan melalui penggambaran secara naratif simbolik menggunakan ragam bahasa sastra.

Ciri khas karya sastra sufi Melayu abad 17-19 ialah kecenderungannya yang tidak semata-mata mengandalkan pada keindahan lahir, yaitu gaya dan corak pengungkapannya. Yang lebih ditekankan ialah keindahan yang berkaitan dengan kesempurnaan rohani, sedangkan ungkapan-ungkapan estetik di dalamnya hanya sarana yang berfungsi bagi pembaca untuk naik menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Dalam puisi dan alegori, pengalaman kesufian penulisnya tidak pernah dinyatakan secara langsung, melainkan melalui ungkapan simbolik yang halus. Karena itu karya pengarang sufi itu sarat dengan penggambaran-penggambaran yang bersifat simbolik.

Saran

Karya sastra sufi Melayu merupakan khazanah yang sangat berharga bagi perkembangan sejarah, bahasa, sastra, dan peradaban Islam di Nusantara. Diperlukan pengkajian secara sistematis dan akademis sebagai upaya melakukan restorasi dan reservasi masing-masing karyanya.

DAFTAR PUSTAKA

Braginsky, V.I., Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1994.

Braginsky, V.I., Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, Jakarta: INIS, 1998.

Hadi W.M., Abdul, Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya, artikel diakses pada 22 November 2009 dari http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/08/13/sastra-melayu-bercorak-tasawuf-pengelompokan-dan-estetikanya/

Hadi W.M., Abdul, Sejarah Intelektual Islam Di Nusantara –
Sastra Melayu Abad ke 14–19 M
, artikel diakses pada 22 November 2009 dari http://sangtawal.blogspot.com/2009/07/tasawuf-dalam-kesusasteraaan-melayu.html/


[1] Abdul Hadi W.M., Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya, artikel diakses pada 22 November 2009 dari http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/08/13/sastra-melayu-bercorak-tasawuf-pengelompokan-dan-estetikanya/

[2] Abdul Hadi W.M., Sejarah Intelektual Islam Di Nusantara –
Sastra Melayu Abad ke 14–19 M
, artikel diakses pada 22 November 2009 dari http://sangtawal.blogspot.com/2009/07/tasawuf-dalam-kesusasteraaan-melayu.html/

[3] Abdul Hadi W.M., Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya.

[4] V.I. Braginsky, Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1994), h. 1-2.

[5] Abdul Hadi W.M., Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya.

[6] V.I. Braginsky, Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu, h. 3.

[7] Abdul Hadi W.M., Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya.

[8] Abdul Hadi W.M., Sejarah Intelektual Islam Di Nusantara –
Sastra Melayu Abad ke 14–19 M.

[9] V.I. Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19 (Jakarta: INIS, 1998), h. 449.

[10] Abdul Hadi W.M., Sejarah Intelektual Islam Di Nusantara –
Sastra Melayu Abad ke 14–19 M.

[11] V.I. Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. h. 469.

[12] Ibid. h. 480-481.

[13] Ibid. h. 493-494.

[14] Abdul Hadi W.M., Sastra Melayu Bercorak Tasawuf: Pengelompokan dan Estetikanya.