Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Oleh. As_Syita

Setelah membaca buku kecil yang memiliki cover hijau tua dan berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” itu ada beberapa kutipan yang kutemukan dan bisa teman-teman baca. Mungkin bisa dijadikan satu penyemangat untuk kita yang masih muda. Menyelami pikiran seorang anak muda yang ‘gelisah di zamannya. Atau kalau tidak, catatan pendek yang berisi beberapa kutipan ini bisa dijadikan sekadar bahan bacaan untuk teman-teman.

Sebagai catatan, Ahmad Wahib adalah salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (meski belum tercatat sebagai sarjana di sana) yang bergabung dalam satu pergerakan mahasiswa yang biasa kita sebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sama seperti Soe Hok Gie, Wahib mati muda karena kecelakaan yang dialaminya. Dia meninggal karena tertabrak sepeda motor ketika pulang dari kantor majalah TEMPO, tempat ia bekerja sebagai calon wartawan. Wahib adalah pemuda yang gelisah dan memiliki banyak pertanyaan tentang Islam, tentang Himpunan yang dicintainya, tentang politik dan budaya, tentang mahasiswa dan kaum intelektual yang berada di menara gading. Catatan harian yang diterbitkannya menimbulkan kontroversi karena pada beberapa bagian, pemikirannya dianggap terlalu radikal karena ia sempat mempertanyakan Allah yang menjadi Tuhannya dan menjadikan Marx pantas masuk surga karena pemikirannya. Ada alasan-alasan yang menjadikan Wahib bertanya-tanya. Tidak perlu berpanjang lebar, karena ini hanya sekilas tentang Wahib. Berikut adalah beberapa kutipan yang kutemukan di dalam buku kecil yang baru selesai setelah beberapa hari ini kubaca:

“Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Paakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal. 23)

“Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tidak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian, Rabbi, aku mengharap cintaku padamu akan pulih kembali. Aku tidak bisa menunggu cinta untuk sebuah sholat.” (hal. 27)

“Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan-Mu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan-kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan-kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh-penuhnya kemampuan itu?” (hal. 31)

Saya tidak mau jadi orang munafik, sok suci dan semacam itu. Percobaan menyembunyikan pengaruh bawah sadar yang mungkin ada? Adalah kepura-puraan. Dan saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap sesama manusia seperti Ahmad dan lain-lainnya. Masalah hukum Tuhan saja saya tidak mau berpura-pura, apalagi terhadap masalah Himpunan Mahasiswa Islam.” (hal. 31)

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaikusebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (hal. 46)

“Persamaan tidak akan menggugah apa-apa untuk pengembangan diri. Tapi pertentangan justru mempunyai saya rangsang yang tinggi untuk kematangan intelektual dan emosional. Karena itu, mumpung masih muda, kejar dan carilah lawanmu, berdebatlah. Dengan demikian, pribadi kita senantiasa kaan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan intelektual dan justru karena kesulitan itulah kita dipaksa untuk maju, dipacu untuk maju. Semua ini jadi semacam peperangan, pemberontakan. Walaupun begitu, harus ada saat-saat di mana kita sempat berteduh dan beristirahat dan merenung atau berpikir sendiri ataupun bersama-sama untuk mengumpulkan dan mengadakan konsolidasi demi menghadapi pertempuran baru. Saat-saat muda yang penuh dengan idealisme dan vitalitas ini harus dipacu secepat-cepatnya untuk memperbanyak modal diri sebelum mengambil decision yang mantap pada umur yang lebih dewasa nanti.” (hal. 52-53)

“Apakah Muhammadiyah berhasil dalam usahanya memberantas apa yang disebut “bid’ah dan khurafat”? Saya kira dalam bidang “bid’ah dan khurafat” yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran NU, Muhammadiyah dapat dikatakan sudah berhasil. Tapi dalam menghadapi “bid’ah dan khurafat” yang “ditimbulkan” oleh kebudayaan Indonesia sendiri dan telah melembaga dalam adat istiadat rakyat, Muhammadiyah mengalami kesukaran. Muhammadiyah datang memberantas tanpa supremasi kebudayaan dan menyerang tanpa membawa kebudayaan baru yang “bersih”. Muhammadiyah cenderung untuk anti kebudayaan!” (hal. 64)

“Apakah ciri-ciri apologia?pertama, kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan menangkis atau membela diri. Kedua, kalau merasa akan diserang yang bersangkutan akan bikin “excuse” lebih dulu. Ketiga, ada kecenderungan membangkit-bangkitkan kembali hal-hal yang lama. Keempat, tidak jarang mengagung-agungkan kejayaan masa lampau. Dan kelima, normatif.” (hal. 68)

“Yang penting bagi kita ialah berbuat dan bertanggung jawab. Kebenaran adalah sesuatu yang kita usahakan mendapati dan kesalahan adalah sesuatu yang kita usahakan menghindari. Dalam sikap demikian, maka kemungkinan melakukan kebenaran atau kesalahan adalah hirarkis di bawah pentingnya berbuat dan bertanggung jawab. Lebih baik berbuat, melakukan kesalahan dan bertanggung jawab daripada takut bertanggung jawab sebab selalu ragu tentang kebenaran tindak dan karenanya tak pernah berbuat apa-apa.” (hal. 117)

“Islam jangan dipandang sebagai bangunan emas yang megah yang bisa dipuja di mana kita mungkin hidup di dalamnya dengan berbuat atau tidak berbuat, tapi Islam bisa ada atau tidak ada tergantung pada ada atau tidak adanya kekerasan kerja dalam diri kita masing-masing untuk mengamalkan ajaran-ajaran spiritual Islam.” (hal. 120-121)

“Hari ini adalah hari Natal. Kepada saudara-saudaraku yang beragama Kristen ingin kusampaikan rasa ikut berbahagia dan simpatiku pada kesungguhan mereka menerima pesan Natal. Banyak kwan-kawan di kalangan Kristen dan Katolik yang tidak sempat kukirimi surat ucapan selamat. Surat itu bukan formalitas. Dia punya arti persahabatan dan pembinaan saling menghargai.” (hal. 192)

“Saya tidak mengerti mengapa orang-orang bersatu dalam organisasi karena persamaan daerah. Ada mahasiswa Kalimantan, Keluarga Madura, dan lain sebagainya. Ini mental primitif. Tapi saya yakin, suatu waktu ini akan hilang.” (hal. 197)

“Dengan umat Islam sendiri, kaum terpelajar muslim kurang komunikasi dan pikiran-pikiran mereka kurang dimengerti. Akibatnya, tetaplah keadaan umat Islam dalam keadaan tak terbimbing, tetapi menjadi klise masa lalu dan makin reaktif. Tak jarang terjadi, kaum terpelajar muslim lantas terbawa oleh “semangat” massa atau pendapat kaum awam. Golongan lain dengan gencar dikritik, tapi golongan sendiri tak diutik-utik.” (hal. 206)

“Saya pikir dalam keluarga harus tercipta iklim kasih sayang. Keluarga yang aman damai mendatangkan tabiat yang tenang pula bagi si anak. Rumah harus menjadi tempat di aman persatuan antaranggota keluarga dipelihara baik.” (hal. 218)

“Dalam keadaan sekarang yang dinamakan pejuang-pejuang idealis Islam barulah pejuang yang bersemangat tinggi, walaupun mereka tidak tahu apa yang mereka maui dengan semangat yang bernyala-nyala itu. Kebanyakan “pejuang-pejuang idealis Islam” menjadi terlalu emosional, kurang rasional. Mereka terpukau dengan simbol-simbol dan semacam itu.” (hal. 268)

“Saya memang mengeritik HMI sebagai orang yang terlibat dalam HMI. Seharusnya orang luar HMI akan lebih meneropong HMI, tapi sebagai orang dalam pun tak ada salahnya. Saya tulis semua ini karena cinta saya dan harapan saya terhadap himpunan ini.” (hal. 277)

“Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain. Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati. Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara pendapat yang berbeda-beda.” (hal. 280)

“Bagaimana dunia mahasiswa Indonesia? Saya melihat telah terjadi krisis identitas, sehingga mereka tidak mampu menampilkan kepribadian tersendiri yang tangguh di tengah-tengah kemelut tanah airnya. Jiwa merdeka jauh dari mereka sehingga banyak organisasi-organisasi mahasiswa dan personil-personil mahasiswa sejak awalnya telah terbelit dalam jaringan partai politik, militer atau kekuasaan lain yang sedang memerintah. Kehidupan mahasiswa kemudian menjadi obyek atau daerah operasi yang tidak sehat dari kekuatan-kekuatan di luarnya dengan memakai tangan-tangan yang ada di dalam. “ (hal. 301)

“Aku ingin Al-Qur’an itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah selama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan Al-Qur’an itu dalam kepribadianku? Bagaimana? Tuhan, aku rindu akan kebenaranMu.” (hal. 320)

“Cinta itu kudus dan syahdu. Penderitaan dan kesulitan yang dia alami kurasakan sebagai penderitaan dan kesulitanku sendiri. Sayang, sukar sekali aku bisa bertemu dia. Kami tinggal pada kota yang lain, dan hanyalah tinta yang bisa jadi juru bicara. Baru dua hari kami berpisah, tapi aduh! Aku tidak tahan menahan kerinduan.” (hal. 324)

“Aku sudah terlalu lama di Yogya. Dia sudah terlalu kering buat suatu inspirasi. Bagiku kota ini tidak inspiratif lagi. Kapankah keinginanku untuk menjelajah dunia ini bisa terlaksana? Aku benci homogenitas dan suasana monoton. Aku ingin mencari lingkungan baru yang masih kaya akan inspirasi. Sebaiknya memang: tinggalkan Yogya!” (hal. 325)

“Aku sangat kuatir akan kemampuanku sendiri dalam menjaga keseimbangan batin di tengah-tengah kekecewaan terhadap nasibku selama ini, terhadap lingkunganku, terhadap teman-teman lamaku dan lain-lain. Mudah-mudahan aku tidak akan terdesak untuk mengambil langkah-langkah artifisial karena kecewa.” (hal. 341)

Catatan:
Beberapa tulisan dari kutipan ditulis tidak baku karena penulisannya merujuk pada buku yang asli. Semoga catatan pendek ini bermanfaat. Amien.