Candi Borobudur

Sudah sejak lama Candi Borobudur dipandang sebagai candi Buddha yang dibangun oleh wangsa Syailendra sekitar abad ke-8 Masehi. Ciri-ciri Buddha banyak terdapat di dalamnya, misalnya bentuk stupa, ujud arca, dan relief cerita yang terpahat.

Namun sekelompok orang dari Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan menyatakan akan menggugat hak atas kepemilikan Candi Borobudur. Lembaga itu bernama Dzikrul lil Aalamiin (DLA), pimpinan KH Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah.

Mereka menyatakan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh tentara jin dan setan Nabi Sulaiman. Candi Borobudur juga memiliki hubungan dengan Ratu Boko. Dalam hal ini Ratu Boko diklaim sebagai Ratu Balqis dan istananya dipindah menjadi bagian teratas Candi Borobudur. Sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Buddha, dikatakan sebagai patung model bidadara surga.

Diakui bahwa penelitian tersebut hanya menggunakan satu metode, yaitu Matematika Islam, sebuah cabang ilmu baru yang diciptakan sendiri oleh KH Fahmi Basya. Dalam teori itu dihubung-hubungkan pula kata Sleman dipercaya berasal dari kata Sulaiman dan Jawa dari kata Jews (Yahudi). Bahkan menurut Fahmi, satu-satunya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan Su hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan Su, yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo.

Sedangkan bukti arkeologis yang diajukan adalah lempengan emas yang ditemukan di dekat situs Kraton Boko, yang menurut mereka berarti “Bismillahirrahmaanirrahiim”, tetapi tidak dikatakan bentuk tulisan dan bahasa apa yang tertulis. Padahal, menurut para arkeolog lempengan emas itu bertuliskan pujian pada dewa Siwa.

Hasil ‘penelitian’ mereka banyak di-posting di internet. Malah dalam sebuah blog dikatakan, relief yang berada di Borobudur juga menceritakan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, walaupun ayat pendukungnya belum ketemu.

Dalam sebuah kesempatan, menurut berbagai sumber di internet, KH Fahmi Basya mengatakan bahwa setelah mengajukan bukti-bukti, pihaknya akan menggugat ke Mahkamah Konstitusi untuk mengklaim Borobudur sebagai milik umat Islam. Setelah itu semua buku sejarah dan literatur yang berhubungan dengan Borobudur, harus dikoreksi.

Talk Show

Akhir Juli 2010 lalu talk show “Misteri Candi Borobudur” pernah diselenggarakan di Jakarta. Selain KH Fahmi Basya, tampil sebagai pembicara Dr. Agus Aris Munandar, dosen arkeologi UI. Dalam kesempatan itu Dr. Agus tidak mengatakan benar atau salah, tetapi memberikan pandangan dari sisi sejarah dan arkeologis. Namun pada prinsipnya Dr. Agus membantah teori Fahmi tersebut.

Teori Fahmi juga banyak mendapat tentangan di Kaskus. Salah seorang berpendapat begini: Misal seluruh penduduk Malaysia mengklaim reog adalah budaya murni Malaysia, apakah itu berarti benar? Belum tentu bukan..Intinya apa? Silakan saja umat Islam mengklaim Buddha adalah Nabi, tapi apakah itu benar?

Saya rasa tidak karena Buddhisme sangat berbeda dengan agama samawi yang berlandaskan Theosentris. Paham Buddhisme lebih cenderung ke Non-Theism. Jadi bagaimana bisa klaim kesamaan dengan landasan ajaran yang berbeda? Itu adalah fakta.

Lainnya menulis demikian: Klaim-klaim yang dilakukan sungguh tidak masuk akal, dengan pembodohan mengatakan A = B. Contoh sederhana: SEPATU = APEL, karena SEPATU punya KULIT dan APEL juga punya KULIT. Inilah teknik pembodohan dan sayangnya orang harus membayar untuk ini.

Terhadap hasil talk show, ada komentar begini: Kendati datang telat, sempet juga mendengar uraian narasumber tentang Borobudur ini.
Kalau dari segi teori Pak Kyai tentang hitung-hitungan di Borobudur, dibilang betul sama Pak Agus Aris Munandar. Tapi begitu masuk esensi pembabaran soal Borobudur dan lainnya, itu yang salah kaprah.
Contoh yang paling gampang saya ingat adalah soal Arupadhatu. Dibilang sama Pak Fahmi saat ditemukan adalah bagian yang tidak hancur. Padahal dari foto yang disajikan oleh Pak Agus, jelas Arupadhatu juga rusak berat saat pertama ditemukan.

Yang juga bikin penasaran penjelasan soal batu yang bergerak melebihi cahaya, yakni batu di Istana Ratu Boko dengan batu di Arupadhatu Borobudur. Pak Fahmi menyebut bahwa batu di Borobudur memiliki kembang segi enam seperti sudah dimasak. Sementara yang di Ratu Boko segi enamnya masih sempurna. Hal ini dibantah oleh Pak Agus (secara tidak langsung karena diskusi dibagi dua sesi) bahwa kembang segi enam terlihat masih utuh karena ditemukannya baru-baru ini. Selama ini memang terpendam di dalam tanah. Sementara di Borobudur karena dalam posisi terbuka dan puluhan tahun terkena panas dan hujan, sehingga terjadi proses abrasi.

Waktu Pak KH talking talking in d show, malah pada banyak yg diem. Ntah kamsudnya mengamini, atao setuju, atow mangkel atow apa gt ntah lah. Yang jelas talking nya malah lebih hidup waktu dosen senior arkeolog dari UI yg memaparkan berdasarkan pengalaman beliau menjadi team peneliti Borobudur dan bbrp candi di Indonesia lainnya. Taaappiiiii, krn Pak KH ada kesibukan lain, waktu pak dosen arkeolognya memaparkan, pak KHnya pamit undur diri krn ada kesibukan lain. Jdnya ya gitu deh, ehehhehe……

Beberapa pertanyaan yg smpt diajukan oleh teman2 peserta berkenaan bbrp paparan pak KH:

  1. relief yg mengukir tongkat sulaiman yg sebesar jari telunjuk (versi KH), menurut pak dosen itu adalah relief melukiskan seutas tali, krn pada masa itu, saat meditasi mereka melilitkan diri dengan tali.
  2. patung unfinished buddha. Yang ternyata pada penggalian2 berikutnya ditemukan lagi 2 buah patung unfinished budha. sooo…. patung2 itu mmg patung yg tidak selesai saja dikerjakan.
  3. memang belum diketahui waktu pasti kapan didirikan dan kapan selesainya kecuali mengacu kpd 2 prasasti. namun diduga waktu pembangunan berlangsung selama 4 generasi kerajaan.
  4. di zaman majapahit pun candi ini masih sering dikunjungi walau tidak secemerlang masa2 sebelumnya. bahkan di kitab2 kuno spt serat centini pun masih disebut ttg candi ini
  5. bahwasanya kerusakan candi terhebat justru terjadi di zaman kolonialisme belanda dimana batu2 candi banyak digunakan sbg bantalan rel KA.
  6. dan bahwasanya teknik2 pemugaran candi yg dilakukan oleh belanda justru banyak “menyakiti” bangunan candi tersebut. jg apa yg dilakukan setelah era kemerdekaan, metode penyambungan dengan angkur malah merusak batu.
  7. sehingga akhirnya para arkeolog kini menggunakan metode lama warisan leluhur yaitu menyusun tumpukan2 batu itu yg terbukti aman gempa

Komentar-komentar di Facebook juga bernada geram:

“Aku pernah ikut seminarnya. Pesertanya kebanyakan dari ‘dunia lain’, seperti tukang jual beli jin, jimat, susuk, dll. Sayangnya pas habis presentasi sang Kyai langsung cabut. so doi ngga mendengar uraian Pak Agus Aris Munandar yang menjelaskan dari sudut pandang ilmu arkeologi”.

“Gak usah digubris, dia itu cuma cari sensasi, dan berbau klenik. Kasarnya ya ingin menyesatkan banyak orang dengan mencampuradukkan agama”.

“Logikanya begini dah, kalo Candi Borobudur itu diklaim sebagai ‘peninggalan Islam’ atau Nabi Sulaiman, di bagian kaki Candi Borobudur yang dulu pernah tersingkap dan sekarang ditutup lagi yang berisi relief Karmawibhangga, terdapat inskripsi-inskripsi singkat dalam huruf Jawa Kuna. Kalau itu diklaim dibangun oleh Nabi Sulaiman beserta pasukan Jin, paling tidak inskripsi itu ditulis dalam bahasa Ibrani. Kalau ditulis dalam huruf Arab sepertinya tidak mungkin juga, karena Nabi Muhammad SAW saja satu-satunya nabi yang diturunkan di tanah Arab. Dasar Kiyai ngawuurrrr”.

“Kasian, nama UIN jadi tercoreng”

“Gue curiga sang kiyai ini antek Zionis (Yahudi) yang ingin menyebarkan Zionisme di pulau Jawa, karena menyamakan “Jawa” dengan “Jews (Yahudi)”. Gue juga nggak rela dibilang “orang Jawa keturunan Yahudi”. Karakter Zionisme adalah ingin mengaburkan ajaran agama, terutama Islam, dengan mengaburkan kebenaran tidak lagi tampak sebagai kebenaran”.

“Daripada dibilang keturunan Yahudi, mending dibilang keturunan ‘Solo Man’ alias manusia purba ‘Homo Soloensis’, iya toh… ! Sudah tahu di dalam agama Islam tidak diperbolehkan penggambaran makhluk hidup, apalagi manusia, dalam wujud arca/patung, eh, ini pendapatnya malah nyeleneh, Candi Borobudur yang banyak arcanya diklaim sebagai peninggalan masa Islam. Wah, bener-bener melecehkan nalar manusia nih kiyai”.

“Kemungkinan besar KH Fahmi Basya ini terinspirasi oleh cerita rakyat ‘Loro Jonggrang’. Bandung Bondowoso (Nabi Sulaiman) mengerjakan proyek membangun candi (Prambanan) dalam sehari dengan bantuan pasukan dedemit, genderuwo, dsb, demi cintanya terhadap Loro Jonggrang (Ratu Balqis)…, he..he..he…, mirip juga ye….”

Penelitian tentang Candi Borobudur memang belum tuntas benar. Seyogyanya ada penelitian menyeluruh yang melibatkan banyak disiplin ilmu.***

Sumber