Mohammad Natsir

Muhammad Natsir (1908-1993), perdana Menteri 1950-1951, “Raksasa terakhir diantara tokoh nasionalis dan pemimpin politik Revolusioner Indonesia” tohok sentral dalam peralihan Republika Indonesia Serikat kenegara kesatuan, mengalahi nasip tragis. Setelah ditahan selama beberapa tahun oleh rezim Orde Lama sampai dibebaskan rezim Orde Baru, dihari meninggalnya bahkan sampai kini, ia tidak mendapatkan penghargaan apa-apa dari Negara yang pernah ia nakhodai. Negara kesatuan dingat dan dijaga, tetapi negarawan arsitek Utama NKRI, dicampakkan dari sejarah.

Taufik Abdullah : Kekalahan paling dramatis bukanlah yang terjadi pada diri natsir. “kekalahan “ paling tragis terjadi ketika “ Bapak bangsa dan pemimpin Besar Revolusi”, yang sejak muda sedang berjuang bagi kemerdekaan bangsa, menemukan dirinya ditolak oleh bangsa yang dicintainya. “kekalahan”tidak kurang tragisnya ialah ketika “ Bapak Pembangunan”, yang telah “mengubah peta Indonesia” harus menerima kenyataan bahwa kehadirannya tidak diinginkan lagi dan perilakunya dijadikan sebagai contoh dari perbuatan yang tidak pantas.

Jakob Oetama : Saya amat terkesan oleh hubungan baik bahkan persaudaraan akrab antara Pak Natsir dengan Pak Kasimo, pemimpin Partai Katolik. Persahabatan Pak Natsir dengan Pak Kasimo amat mengharukan. Padahal dimimbar politik antar mereka tak jarang terjadi perbedaan pandangan politik. Itu warisan politik berdemokrasi yang mulia dan berguna. Perbedaan pendapat bahkan konflik pendapat dalam memikir politik tidak menggangu persahabatan dan persaudaraan. Tidak mengurangi komitmen bersama untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

BELUM TIBAKAH saatnya bangsa ini melupakan dendam masa lalu dan BERDAMAI DENGAN SEJARAH?

SELENGKAPNYA DOWNLOAD DI SINI

LANGGANAN ARTIKEL GRATIS KLIK DI SINI