17 Agustus 2011
17 Agustus 2011

Oleh. KH. Abdullah Gymnastiar

Kemerdekaan dalam pandangan tauhid seseorang memiliki makna tersendiri, yakni ketika dirinya sudah tidak tergantung kepada selain Allah; tujuan hidupnya hanya mencari ridho Allah; ia tidak terpenjara oleh pujian dan tidak takut dicela ketika berbuat kebenaran. Orang yang benar-benar merdeka adalah orang yang memegang teguh tauhid.

Semua Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT ke dunia adalah untuk menegakkan tauhid. Memerdekakan manusia dari perbudakan terhadap apa pun, kecuali menghamba hanya kepada-Nya. Allah SWT memperkenalkan “Diri-Nya” melalui kitab-kitab sucinya yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Tauhid tidak sekadar teori yang menjadi wacana, tapi mesti masuk hingga ke dalam lubuk hati.

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS an-Nahl: 36). 

Mengukur kekuatan tauhid seseorang tidak mesti dari banyaknya ilmu dan ibadah, tapi juga lebih pada kesehariannya apakah melakukan sesuatu yang Allah ridhoi atau tidak. Ciri-ciri orang yang teguh tauhidnya berdampak pada semua lini kehidupannya, berdampak pada akhlak, bisa dibuktikan dalam kesehariannya, seperti rajin, jujur dan amanah, terus mencari ilmu untuk mengenal dan mendekat kepada Allah SWT, sungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah SWT, tidak sibuk dengan penilaian makhluk, hanya mencari ridho Allah, sehingga merasakan hati yang sakinah dan mantap dalam menghadapi situasi apapun.

Adapun proses di mana kita bisa meraih kekuatan tauhid di antaranya adalah :

  1. Tekad, yang kuat di dalam hati terdalam untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT.
  2. Ilmu, yang harus menjadi jalan mengenal dan yakin kepada Allah, serta bagaimana patuh kepada Allah. Sebaiknya mencari ilmu prioritas mengenal Allah, dari orang yang sudah mengenal Allah dan yakin kepada Allah, karena orang yang berilmu agama belum tentu yakin kepada Allah. Dengan memilliki keyakinan kepada Allah, Allah akan menuntun untuk mendapatkan ilmunya.
  3. Mujahadah, sungguh-sungguh, buktikan kepada Allah bahwa ilmunya diamalkan. Dengan mengamalkan Allah akan menambah ilmu lagi.
  4. Cari lingkungan kondusif dan teman-teman yang baik. “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh dan orang jahat seperti bergaul dengan penjual minyak wangi dan tukang bakar arang. Adapun dengan penjual minyak wangi, mungkin saja dia akan memberimu minyak wangi, atau kamu membeli minyak kepadanya. Atau paling tidak kamu akan terkena harumnya. Sedangkan dengan pembakar arang, boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau paling tidak kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR Bukhari)
  5. Terus latihan membersihkan hati, intinya terus-menerus tobat.

Dari Abû Hurairah ra bahwa Rasûlullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin, ketika ia berbuat dosa maka (saat itu juga) akan menempel titik hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan mencabut (dirinya dari perbuatan dosa tersebut) dan memohon ampunan maka hatinya (kembali) bersih, jika ia menambahinya (dengan perbuatan dosa lagi) maka titik hitam itu bertambah pula di dalam hatinya. Selanjutnya itulah “ran” yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

“(Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka).”

Bagi kita yang terpenting untuk bisa benar-benar merdeka adalah kekuatan tauhid, berharap dan takut hanya kepada Allah SWT, yakin dan patuh kepada Allah SWT. Dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dimulai saat ini. Dan Allah akan memperluas keberkahan tauhid ini ke lingkungan yang lebih luas lagi. Itulah nikmat yang tidak ternilai.

Sumber