Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan[*]

Usai sudah perjuangan umat Muslim di seluruh dunia dalam menggapai berkah di bulan Ramadhan tahun ini. Jiwa dan raga ditempa selama satu bulan penuh demi mendapatkan predikat sebagai insan yang bertakwa. Umat Islam pun mendapatkan momentumnya. Meski terkesan sumringah, namun kegembiraan bagi sebagian orang sama sekali tidak mengesankan mereka senang karena akan meninggalkan bulan yang penuh “kehausan” itu. Akan tetapi, kegembiraan mereka menjemput kemenangan setelah satu bulan penuh mendapatkan pembinaan spiritual melalui ibadah puasa.

Di Indonesia, ekspresi kemenangan diluapkan dalam berbagai hal. Dalam mengekspresikan kemenangan lebaran, mudik merupakan salah satu rutinitas terbesar umat muslim Indonesia. Hampir setiap umat memiliki alasan yang sama untuk melakukan mudik yaitu ingin merayakan kemenangan bersama keluarga besar yang esensi terbesarnya adalah semangat berbagi dan silaturahmi.

Berbagai hal dipersiapkan dengan penuh perencanaan. Hasrat ingin bertemu keluarga besar yang telah lama tidak berjumpa, Mulai dari ongkos, oleh-oleh, fisik, sampai mentalpun dipersiapkan. Bahkan Presiden pun harus turun melakukan safari Ramadhan untuk memastikan pelayanan mudik berjalan aman dan lancar.

Mudik dan Ajang ‘Pamer’

Kalau istilah urbanisasi berarti perpindahan penduduk dari desa ke kota, maka reurbanisasi yang berarti perpindahan penduduk kembali ke desa merupakan kata yang tepat untuk menyebut istilah mudik. Mudik merupakan reurbanisasi besar-besaran yang hanya terjadi pada saat lebaran dan hebatnya hanya terjadi di Indonesia.

Apabila motif terbesar masyarakat melakukan urbanisasi adalah memperkaya diri, maka reurbanisasi (dalam hal ini adalah mudik)seringkali dijadikan sebagai ajang untuk mempertunjukkan keberhasilan. Entah diniati atau tidak, setiap orang yang sudah pernah tinggal di kota pasti memiliki keinginan untuk terlihat lebih baik daripada orang kampung. Padahal, menumpuknya permasalahan kemiskinan dan pengangguran di ibukota telah melibatkan separuh dari puluhan juta pemudik.

Di balik esensinya yang mulia, mudik yang merupakan tradisi unik banyak dibumbui oleh kejadian-kejadian yang tidak terpuji. 22 Agustus lalu, di sela-sela apel persiapan mudik lebaran Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengeluarkan pernyataan yang memilukan, “Lebaran, kriminalitas akan meningkat”. Keinginan kuat merayakan kemenangan berpuasa membuat setiap orang ingin menghadirkan hal yang baru baik untuk konsumsi pribadi maupun ‘dipertontonkan’ orang banyak. “Nafsu besar, usaha kurang”, mungkin ini istilah yang cukup untuk menggambarkan keadaan ini.

Berbondong-bondong masyarakat menuju ibukota seolah-olah melihat hamparan air di tengah kehausan yang ternyata setelah sampai di ibukota hanya terdapat hamparan air mata. Bukannya kaya malah miskin, bukannya kerja malah menganggur. Lagi-lagi semangat merayakan lebaran di kampung halaman menjadi motivasi tersendiri. Tidak sedikit sebagian dari kita yang mengaku sukses padahal di ibukota sehari-hari hanya mengais air mata dan seakan-akan sudah menjadi tradisi, masyarakat desa menunggunya dengan harapan ia akan datang membawa ‘oleh-oleh’.

Mudik dan Kesederhanaan

Mudik merupakan fenomena tentang sosial, ekonomi, dan agama. Mudik mempengaruhi status sosial bagi pelakunya. Pemudik, ketika ia sampai di kampung  halamannya akan disambut layaknya tamu agung yang datang  dari jauh dan kedatangannya dielu-elukan seperti halnya pemenang. Ini menjadi kredit tersendiri bagi pemudik dan dengan alasan kesuksesan ia telah mendapatkan status sosial yang begitu tinggi.

Ekonomi merupakan sektor yang paling diuntungkan dari fenomena ini. Menjamurnya pedagang-pedagang pakaian, oleh-oleh, parcel, sampai bengkel-bengkel otomotif siap melayani bagi siapa saja yang ingin membagi rezekinya agar sampai ke tangan handai taulan.

Namun agama merupakan pondasi segalanya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan fenomena mudik dalam pandangan agama. Mudik hanyalah salah satu upaya umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan habl min al-nas. Sholat Idul Fitri bersama keluarga besar merupakan kenikmatan tersendiri dalam merayakan hari kemenangan, dilanjutkan dengan saling memaafkan dari segala dosa, dan silaturahmi kepada kerabat dan tetangga.

Esensi mudik sebagai washilah untuk menyampaikan semangat silaturahmi hendaknya tidak dikotori oleh aksi-aksi kotor yang justru akan menghilangkan berkah silaturahmi. Pamer merupakan salah satu potret negatif mudik yang seringkali terjadi pada masyarakat kita. ‘Tradisi’ pamer justru menjadi magnet yang sangat kuat untuk menarik minat masyarakat desa melakukan urbanisasi. Bukan kesuksesan namun bertambahnya catatan masyarakat miskin yang akan menghiasi fenomena mudik dan hal ini terus-menerus dilakukan sepanjang tahun.

Mudik berbekal kejujuran dan kesederhanaan akan lebih indah serta mencapai esensi silaturahmi dan hari raya Idul Fitri. Tidak ada salahnya kita berterus terang tentang keadaan kita di kota tanpa mengajak saudara-saudara kita untuk pergi ke kota. Kalau kita belum beruntung di kota, ada baiknya kita kembali ke desa dengan segala potensi alamnya. Namun ketika keberuntungan menyertai kita, berinvestasi dan membuka lapangan pekerjaan di desa dengan segala potensi alamnya merupakan salah satu solusi yang ditawarkan tanpa kita harus meninggalkan lapangan pekerjaan kita di kota.

Mudik bukanlah berpikir tentang prestise dan prestasi, namun mengembalikan hakikat mudik yang seutuhnya sebagai sarana untuk menyampaikan silaturahmi dan merayakan hari kemenangan adalah keniscayaan.


[*] Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta