catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.

Catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.

Oleh. Dr. Oman Fathurahman

Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.

Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku shock dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺

Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel terkait topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di Nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di Nusantara ratusan tahun lalu.

Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad 18 dan 19, yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip Nusantara, dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan, terutama kawan-kawan di Aceh dan Minangkabau.

Bersama Azyumardi Azra dan teman-teman di Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM), saya membincangkan kejayaan plus kekayaan manuskrip Nusantara kita itu di warung kopi Banda Aceh, kaitannya dengan kajian Islam (Islamic studies).

Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Nusantara, wilayah Nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.

Dalam sebuah manuskrip asal abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah…”. Catatan tersebut menunjukkan pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada pagi hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk 2010: xx).

Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip Tabir Gempa di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman & Holil 2007: 274-275), Ramalan Tentang Gempa di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed.] 1998: 291), dan Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Kearifan Lokal dan Takwil Gempa

Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.

Salah satu bagian dari manuskrip Takwil Gempa asal abad 19 Surau Lubuk Ipuh di atas, yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya menjelaskan bahwa: “…dan jika pada bulan Dzulqadah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala [musibah] banyak akan datang ke dalam negeri itu…”. Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh, yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa, terjadi pada Minggu pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Zulkadah 1425 Hijriah!

Saya meyakini bahwa itu bukan malapetaka, apalagi azab sang Pencipta, melainkan musibah kemanusiaan akibat peristiwa alam yang terjadi di luar kehendak dan kontrol manusia!

Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut, seraya menghubungkannya dengan gempa 7.1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.

Saya agak gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi: “…dan bergerak gempa pada bulan Safar…jika pada waktu Isya alamatnya bala [musibah] akan datang ke negeri itu…”! Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.

Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) leluhur kita saja, yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.

Akan tetapi, kawan saya, Jajang Jahroni, mengingatkan bahwa tidak sepatutnya kita selalu menghadapkan secara dikotomis antara kearifan lokal tradisional dengan pengetahuan ilmiah modern (science) yang menurutnya terkadang juga mengandung pseudo-science. Ibarat cireng(Sunda: aci digoreng) yang sekarang ini bisa saja berdampingan dengansphageti di Supermarket….!

Takwil Gempa dan Pemilukada Aceh

Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang Pemilukada di Aceh pun membuat kita was-was, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?

Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks Takwil Gempayang dibuat oleh Yusri Akhimudin, Dosen STAIN Batusangkar yang sedang studi lanjut di konsentrasi Filologi di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala yang “diramalkan” itu.

Sang pengarang ternyata menulis demikian: “…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…”.

Kita bisa menafsirkan sendiri, apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka juga menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, perebutan kekuasaan, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. Wallahu a’lam.

Sumber