Naskah Klasik sebagai Manifestasi Kebudayaan (Foto: Republika)

Naskah Klasik sebagai Manifestasi Kebudayaan (Foto: Republika)

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan[1]

Sebagai seorang akademisi yang sangat memperhatikan aspek-aspek pengajaran dan pengembangan kebudayaan, E.K.M. Masinambow merupakan panutan bagi setiap orang yang ingin mengkaji ragam perkembangan ilmu pengetahuan budaya. Tulisan ini akan memberikan pemahaman terkait beberapa pemikiran Masinambow yang tertulis dalam artikel populernya yang berjudul Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. Artikel tersebut merupakan pedoman bagi para akademisi maupun praktisi budaya untuk menjawab berbagai polemik atas realitas perkembangan budaya di masa kini.

Masinambow membuka tulisannya dengan mengajukan dua pertanyaan, yakni sejauh mana teori kebudayaan dapat digunakan untuk keperluan praktis? Dan bagaimana peran teori kebudayaan dalam memperlancar usaha pembangunan masyarakat? Kedua pertanyaan ini merupakan motivasi yang diberikan Masinambow kepada para pembacanya untuk memahami konsep-konsep kebudayaan yang memiliki multi-peran sebagai sistem adaptasi terhadap lingkungan, sebagai sistem tanda, sebagai teks, dan sebagai fenomena yang memiliki ragam fungsi.

Kontras antara ilmu pengetahuan budaya, ilmu pengetahuan sosial, dan humaniora adalah permasalahan yang sangat mendasar dalam membedakan definisi dan perannya dalam riset tentang ilmu-ilmu yang membahas manusia sebagai makhluk individu maupun sosial saat pembahasan mengenai pertentangan antara ilmu pengetahuan budaya dengan ilmu pengetahuan alam telah dianggap selesai.

Dalam hal kebudayaan, Masinambow melihatnya sebagai fenomena sosial yang mengkaji berbagai keteraturan, pola, serta konfigurasi atas berbagai perilaku dan tindakan masyarakat. Kebudayaan memiliki sifat materialistis yaitu sebagai hasil adaptasi masyarakat pada lingkungan alam atau sebagai suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat.

Berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial yang dipandang membuat interseksi dengan ilmu pengetahuan budaya. Meskipun memiliki fokus kajian yang dianggap bertumpang tindih dengan ilmu pengetahuan budaya, ilmu pengetahuan sosial mampu mendefinisikan dirinya sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji manusia dan masyarakat sebagai pranata sosial.

Di satu pihak, humaniora berada dalam cakupan ilmu pengetahuan budaya. Sebaliknya humaniora tidak mencakupi ilmu pengetahuan budaya secara keseluruhan dari disiplin-disiplin dalam ilmu pengetahuan budaya. Humaniora memiliki kedudukan yang lebih khas daripada ilmu pengetahuan budaya dikarenakan fokusnya pada peningkatan kemampuan dan kualitas potensi kemanusiaan yang diisi oleh ranah filsafat, sastra, bahasa, sejarah, dan lainnya.

Kesulitan lain dalam ranah kebudayaan adalah saat membedakannya dengan istilah ‘peradaban’. Keduanya memiliki kesamaan yakni melihat fenomena sosial sebagai sebuah pola, akan tetapi Masinambow membedakan keduanya dalam hal cakupan teritorial maupun geografis. Peradaban memiliki cakupan teritori yang luas sedangkan sebaliknya kebudayaan lebih sempit karena terikat oleh batas-batas nasional secara geografis maupun politis. Masinambow memberikan contoh, kebudayaan Jerman merupakan hasil penyebaran peradaban Eropa.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa kebudayaan meniscayakan manusia sebagai objek sekaligus subjek pada penelitiannya. Untuk memberikan analisa atas pola keteraturan pada penelitiannya tersebut dibutuhkan lima jenis data yaitu artefak, perilaku kinetis, perilaku verbal, tuturan, dan teks yang terdiri atas tanda-tanda visual sebagai representasi bahasa dan perilaku. Kelima data tersebut merupakan pedoman yang bermakna sebagai hasil kegiatan manusia sebagai makhluk yang terikat secara kolektif.

Masinambow menyatakan bahwa terdapat keragaman dalam memandang kebudayaan sebagai teori. Pada abad ke-19 terdapat teori dominan yang dikenal dengan evolusionisme budaya. Teori ini menganggap bahwa manusia dan pranata-pranatanya berkembang beriringan dengan perkembangan hukum alam sebagaimana halnya dunia fisik, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi teori ini kemudian mendapat tantangan dari Franz Boas yang menyatakan bahwa kebudayaan bersumber pada emosi, bukan rasio, yang tumbuh dan berkembang atas prinsipnya masing-masing sehingga mampu menghasilkan dinamika serta modifikasi-modifikasi yang bersumber atas gagasan atau tema tertentu.

Dalam gagasan teori idealistis, kebudayaan identik dengan suatu teori yang dianut warga masyarakat tentang apa yang dianggapnya harus dilakukan terhadap masyarakat lainnya. Kebudayaan merupakan sistem sosial-budaya yang secara langsung bersifat adaptif terhadap lingkungan sosial. Keterbatasan mengetahui seluk-beluk budaya secara keseluruhan merupakan problematika tersendiri karena jangkauannya terbatas pada apa yang dialaminya sehari-hari. Sehingga sebagai solusinya adalah tiap-tiap fenomena sosial yang baru dialami oleh pengkajinya harus dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh sebelumnya.

Pada prinsipnya, teori-teori tersebut bersumber pada pemikiran seorang Saussure, Peirce, serta teori interpretasi. Ketiganya meletakkan asas teori kebudayaan yang memandang budaya sebagai suatu sistem tanda yang merepresentasikan makna tertentu yang bersifat abstrak. Pola tindakan masyarakat sebagai objeknya merupakan bentuk manifestasi yang memiliki makna intrinsik sehingga menghasilkan makna baru setelah dipadukan dengan makna yang bersumber pada pengetahuan dan pengalaman pengkajinya.

Dalam perkembangannya, berbagai cara pandang mengenai teori kebudayaan semakin beragam karena mencerminkan dominansi aliran-aliran intelektual pada zaman-zaman tertentu. Pada Masa Pencerahan (Enlighment) misalnya, seperti yang telah disinggung sebelumnya, kebudayaan sebagai sebuah realitas dipandang sebagai sesuatu yang bersifat rasional dan statis. Pendapat ini tentunya berkembang seiring pesatnya kemajuan ilmu-ilmu yang mengkaji alam semesta yang bersifat rasional.

Ketidakpuasan atas aliran ini kemudian dibantah oleh aliran pasca-strukturalisme dan pasca-modernisme –Masibambow menyebutnya sebagai kelompok anti-Pencerahan– yang memandang bahwa realitas dibangun tidak melalui wujud yang mandiri melainkan melalui pergolakan wacana yang selama ini berlaku dan digunakan dalam masyarakat. Timbulnya gagasan ini merupakan respon terhadap rasionalisme yang dianggap gagal dalam membawa manusia pada taraf kesejahteraan.

Penutup sebagai Sebuah Komentar

Satu hal yang menggelitik dari artikel Masinambow ini adalah upayanya untuk ‘memaksa’ para pengkajinya untuk memahami bahwa apapun perdebatan mengenai kebudayaan dipastikan akan bermuara pada peletakan sistem semiotik sebagai pola awal pembentukan cara pandang terhadap kebudayaan sebagai sebuah teori. Ragam pemikiran yang muncul setelahnya, bahkan pemikiran Masinambow, wajib bermuara pada sistem ini.

Pola ini seolah mempertegas kejumudan kajian ilmu pengetahuan budaya pada era abad ke-19 yang telah dijelaskan sebelumnya. Pola ini meniscayakan bahwa meskipun kebudayaan merupakan sistem tanda yang telah memiliki struktur yang telah mapan sebelumnya, akan tetapi struktur-struktur ini selalu bergerak dinamis tanpa bisa setiap pengkajinya memprediksikan apa yang akan terjadi pada kelompok masyarakat tertentu di masa yang akan datang secara akurat.

Melalui ‘pemaksaan’ tersebut, Masinambow ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa ilmu pengetahuan budaya merupakan lahan ‘basah’ yang patut dijadikan ladang penelitian yang berkesinambungan. Dinamika yang terjadi atasnya meniscayakan bahwa budaya merupakan sebuah dunia yang sama pentingnya dengan dunia lainnya.

Meskipun demikian, sepanjang lebar artikel ini, belum dapat ditemukan jawaban atas salah satu dari dua pertanyaan yang diajukan oleh Masinambow di awal yakni mengenai peranan teori kebudayaan dalam memperlancar usaha pembangunan masyarakat. Hal ini merupakan sisi terpenting mengingat pada era globalisasi saat ini menuntut setiap hal termasuk disiplin ilmu pengetahuan mampu memberikan kontribusi tidak hanya sebatas peningkatan kualitas diri akan tetapi secara nyata pada aspek yang bersifat materi dan ekonomi yang dianggap mampu menciptakan kesejahteraan pada umat manusia.


[1] Peneliti Islamic Manuscripts Unit (ILMU) pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Peneliti Pusat Naskah Islam Nusantara (Pusnira) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Saat ini sedang menempuh jenjang magister filologi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Dapat dihubungi pada email: m.nida@uinjkt.ac.id

[2] Download versi PDF di sini.