Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Naskah merupakan alat rekam berbagai aktifitas pemiliknya, begitulah fungsi naskah yang disampaikan Oman Fathurahman dalam pengantar penyusunan Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar. Pada masanya, keberadaan naskah sangat dibutuhkan karena dianggap sebagai alat yang paling efisien dan tahan lama. Sehingga, sebagai salah satu artefak hasil kegiatan manusia, naskah menyimpan banyak potensi yang mampu mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang dimiliki oleh penulis, pemilik, maupun daerah tempat ditulisnya naskah tersebut.

Keberadaan naskah di Indonesia merupakan sebuah fenomena tersendiri. Khazanahnya yang melimpah bagaikan bom waktu yang berpotensi meledakkan sendi-sendi sosial dan budaya apabila tidak ada yang mampu menjinakkannya melalui pemberian perhatian penuh akan keberadaannya di tengah masyarakat yang semakin modern dan menyebarkan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Ledakan yang dimaksud adalah hilangnya jejak-jejak peradaban yang dibangun oleh naskah itu sendiri. Salah satu potensi yang mampu menghilangkannya adalah bencana alam yang tentu tidak akan mampu dihindari oleh setiap umat manusia.

Guna mengantisipasi hal-hal tersebut, diperlukan tindakan nyata untuk menyelamatkan keberadaan naskah. Inventarisasi, pendataan, dan pengungkapan isi ajaran-ajaran yang disampaikan oleh naskah merupakan unsur penting yang dapat melestarikan naskah. Kegiatan tersebut kemudian dihimpun dalam bentuk katalog naskah sebagaimana yang dilakukan oleh Oman Fathurahman, dkk. dalam menginventarisasi keberadaan naskah di Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Mengenai identitas Dayah Tanoh Abee, Henri Chambert-Loir dalam pengantarnya menyampaikan bahwa sebagai pusat pendidikan dan skriptorium naskah, Dayah Tanoh Abee sudah sangat dikenal sejak lama di dunia pernaskahan yang pada tahun 1970-an oleh ahli warisnya, Tgk. H. Muhammad Dahlan, mengungkapkan bahwa di tempat tersebut terdapat 2.000 naskah lebih. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah koleksi naskah yang berada di tengah masyarakat meskipun hal tersebut dinilai kontradiktif apabila dibandingkan dengan pernyataannya pada katalog yang pernah disusun pada tahun 1980 bahwa terdapat 900 naskah di Dayah Tanoh Abee. Angka tersebut semakin menyusut apabila dibandingkan pada saat dilakukan inventarisasi di tahun 1983 yang hanya ditemukan sekitar 700 bundel naskah dengan perkiraan terdapat lebih dari 1.000 teks. Dikemukakan oleh Chambert-Loir bahwa penyusutan ini merupakan akibat dari ‘kerisihan’ pemilik naskah yang menganggap bahwa naskah-naskah ini sudah semakin lapuk, rusak dimakan rayap, dan tidak dapat dibaca sehingga terpaksa dibakar.

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar (2010) menyusun 280 bundel naskah yang berisi 367 teks yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan seperti ilmu agama, tata bahasa, sejarah, dan lain sebagainya. Katalog ini hadir untuk melengkapi dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam katalog naskah Tanoh Abee sebelumnya meskipun kemudian oleh penyusunnya disadari bahwa katalog ini tidak menyertakan seluruh naskah yang berada di dalam koleksi Dayah Tanoh Abee.

Dalam konteks penyajian, katalog ini merupakan katalog paling mutakhir yang menyajikan identitas teks, bukan berdasarkan bundel naskah, secara serius, terperinci, dan terampil. Dengan didahului sebuah pengantar panjang mengenai gambaran tempat penyimpanan dan pembuatan naskah, katalog ini ini disusun berdasarkan rumpun keilmuan yang dikaji oleh naskah yang diperikan meskipun tidak disertakan logika penyusunan rumpun keilmuan yang dimulai secara berurutan dari Ilmu al-Quran, Hadis, Tafsir, Tauhid, Fikih, Tasawuf, Tata Bahasa, Logika, Ushul Fikih, Sejarah, Zikir, Doa, dan lain sebagainya.

Katalog ini memperlihatkan kecenderungan mayoritas rumpun ilmu yang sering diungkapkan oleh naskah-naskah di Dayah Tanoh Abee. Bahkan lebih luas katalog ini juga, dengan membandingkannya dengan Katalog Ali Hasjmy, memperlihatkan kesamaan atas kecenderungan ilmu fikih dan ilmu-ilmu agama Islam sebagai rumpun ilmu yang paling sering diungkapkan oleh naskah di wilayah Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi aktifitas intelektual keagamaan yang sangat tinggi, terutama Islam, di Aceh pada masa penulisan naskah-naskah tersebut.

Salah satu tujuan penyusunan katalog naskah adalah memberikan gambaran kodikologis sebuah naskah kepada pembacanya. Apabila dibandingkan dengan katalog-katalog naskah yang telah ada sebelumnya, katalog ini menyajikan metadata naskah secara lengkap dan komprehensif serta memberikan pengantar yang baik mengenai tata cara penggunaan katalog ini. Konsistensi transliterasi, jenis cap kertas (watermark), jenis alas naskah, ukuran naskah, ukuran teks, rataan jumlah baris pada setiap halaman, judul naskah, penomoran koleksi, bahasa yang digunakan dalam teks, genre teks, jumlah halaman naskah, nama pengarang/penyalin, waktu penyalinan, gambaran isi, keterangan tambahan, serta pengungkapan kutipan kolofon merupakan unsur-unsur yang mampu ditampilkan oleh katalog ini meskipun ada beberapa unsur yang tidak ditampilkan dalam katalog ini adalah keberadaan garis tipis dan tebal pada kertas (laid lines dan chain lines), iluminasi, ilustrasi dan sebagainya.

Biasanya, sebuah katalog memberikan keterangan mengenai kondisi fisik naskah. Akan tetapi pada katalog ini tidak disampaikan informasi tersebut dikarenakan secara keseluruhan kondisi naskah dalam keadaan baik sehingga apabila didapati sebuah naskah dalam kondisi yang tidak baik maka akan disampaikan informasi tersebut pada ‘keterangan tambahan’.

Salah satu kesulitan yang sering ditemui oleh para peneliti di lapangan adalah seringkali mendapatkan naskah yang tidak memiliki identitas yang lengkap mengenai judul naskah. Katalog ini memberikan alternatif penentuan ‘judul dugaan’ dengan cara yang sudah lazim dilakukan yakni tanda kurung siku pada awal dan akhir judul tersebut. Penentuan judul tersebut harus diawali dengan pembacaan secara serius terhadap gambaran isi teks sehingga mampu didapatkan ‘judul dugaan’ tersebut. Proses ini memberikan pelajaran kepada para pembaca bahwa untuk menjadi seorang peneliti naskah klasik (filolog) harus memiliki kemampuan dasar mengenai bahasa yang digunakan dalam teks sehingga dapat meminimalisir kesalahan atas analisa isi kandungan teks yang dibaca.

Penanggalan merupakan salah satu unsur penting yang terdapat dalam naskah. Karakteristik penanggalan pada naskah-naskah Melayu biasanya menggunakan penanggalan Islam (hijriyah) sehingga terkadang merepotkan bagi para pembaca yang ingin mengetahui penanggalan naskah tersebut dalam sistem penanggalan masehi. Dengan difasilitasi program Ahad Macro yang diperoleh melalui portal Malay Concordance Project (MCP) asuhan Ian Proudfoot, seluruh penanggalan hijriyah naskah-naskah yang terdapat di dalam katalog ini telah diubah ke dalam sistem penanggalan masehi.

Dari keseluruhan hal yang dibahas katalog ini, terdapat satu bagian yang sangat membedakan katalog ini dengan yang lainnya yakni adanya fasilitas related text pada setiap judul atau isi teks yang dianggap memiliki keterkaitan dengan yang teks lainnya. Sebagai contoh, penyusun tidak lagi memberikan informasi deskripsi naskah untuk naskah dengan nomor 218/619/Fk-73/TA/2006 karena dianggap sama dengan deskripsi naskah nomor 222/620/Fk-72/TA/2006.

Pada akhir katalog ini juga disertakan indeks yang memuat judul-judul serta nama-nama yang disebutkan di dalam katalog yang disusun secara alfabetis sehingga pembaca diberikan banyak alternatif untuk melakukan pencarian naskah dengan judul dan nama tokoh tertentu. Penyertaan bibliografi sebagai daftar referensi juga memperlihatkan bahwa terdapat kekayaan kajian literatur sehingga pembaca mampu membayangkan lebih utuh mengenai gambaran isi suatu naskah.

Kesimpulan dan Kritik

Katalog ini memperlihatkan sebuah kesimpulan menarik yakni dominasi kajian ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa Arab sebagai materi yang paling sering ditemukan dalam naskah-naskah di Aceh. Meskipun demikian, pada akhirnya kita patut mempertanyakan, mengapa hanya 280 bundel naskah saja yang diperikan dalam katalog ini? Pertanyaan ini kemudian menimbulkan kesan bahwa katalog ini dapat menggiring opini bahwa sejak masa lalu Aceh memiliki tradisi keilmuan Islam dengan pengaruh tradisi Timur Tengah yang sangat kuat mengingat penyusunnya juga membandingkan keadaan ini dengan dominasi yang terdapat dalam katalog Aceh lainnya yaitu Katalog Ali Hasjmy.

Penyusun juga tidak menyampaikan bagaimana caranya seorang peneliti dapat mengakses naskah tersebut secara utuh untuk kepentingan akademis baik untuk mengakses naskah secara fisik maupun digital fotografi (apabila ada). Hal ini penting dicantumkan karena terkadang pemilik naskah masih membatasi diri dengan orang-orang yang dianggap tidak dikenalnya.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, secara umum, katalog ini mampu memperlihatkan kekayaan naskah Nusantara khususnya di Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar melalui pemaparan gambaran kodikologis yang sangat terperinci. Katalog ini sangat memanjakan pembacanya karena mampu menampilkan isi kandungan teks secara utuh dengan diperkaya oleh kajian-kajian literatur yang singkat namun padat.

Terlepas dari kekurangan tersebut di atas, katalog ini telah mampu mengungkapkan sisi keunikan naskah-naskah Nusantara, terutama naskah Aceh. Katalog ini juga mengungkap sisi keunikan naskah Aceh dan mengaitkannya dalam konteks sosial budaya pada masanya. Dicontohkan oleh penyusunnya bahwa adanya catatan remeh-temeh merupakan bukti bahwa hanya sedikit saja masyarakat yang mampu membeli dan menuliskan rekaman hidupnya dalam naskah.

Kehadiran para filolog terutama dalam perannya mengungkap kekayaan khazanah naskah Nusantara merupakan semangat tersendiri. Filolog berperan sebagai akademisi yang mampu mengungkapkan sisi lain yang terkandung dalam naskah. Melalui katalog ini, para peneliti diajak untuk tidak melihat naskah dalam perspektif sastra semata, akan tetapi dibutuhkan banyak disiplin ilmu yang lain untuk memahami isi ajaran teks yang dalam kasus naskah di Dayah Tanoh Abee ini misalnya dibutuhkan ilmu lain seperti islamic studies. Filolog juga mampu berperan sebagai konsultan bagi para pemilik naskah agar mampu menjaga warisan leluhur dengan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan terkait keberadaan naskah di Indonesia.

Pada akhirnya, penerbitan katalog, yang sebelumnya juga dilakukan restorasi dan konservasi naskah, yang didanai oleh Toyota Foundation ini merupakan kritikan tersendiri bagi para pemangku kebijakan di Indonesia. Meskipun secara keseluruhan penyusunan katalog ini dilakukan oleh sarjana lokal, akan tetapi kita belum mampu melihat secara maksimal kontribusi pemerintah dalam komitmennya melestarikan naskah yang telah ditetapkan dalam undang-undang sebagai benda cagar budaya. Semoga katalog ini mampu menjadi semangat bagi semua pihak yang peduli terhadap kelestarian produk budaya Indonesia.

Baca juga: Sisi Humanis Manuskrip Kitab Nusantara: Kajian Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar

Identitas Buku

Judul : Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar
Penyusun Utama : Oman Fathurahman
Penyunting Utama : Toru AOYAMA
Penerbit : Komunitas Bambu, TUFS Tokyo, PPIM UIN Jakarta, Manassa, PKPM Aceh, dan Dayah Tanoh Abee
Tahun Terbit : 2010

[*] Review ini diterbitkan pada Jurnal Jumantara Vol, 4, No. 2, Tahun 2013. Untuk versi PDF, silahkan klik di sini

[*] Peneliti Islamic Manuscripts Unit (ILMU) PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini sedang menempuh jenjang magister filologi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Dapat dihubungi melalui email: m.nida@uinjkt.ac.id.