2014-02-25 09.45.56

Tiket Masuk Museum Edo-Tokyo

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan[*]

Bagi setiap orang, istilah ‘budaya’ bukan merupakan kosakata yang asing untuk dipahami. Definisi budaya sangat erat kaitannya dengan perkembangan manusia itu sendiri baik dalam kaitannya sebagai individu maupun sebagai perannya dalam sebuah komunitas. Pengertian ini memberikan alasan bahwa manusia merupakan faktor penting dalam konteks penelitian ilmu budaya. Lima data yang disebutkan oleh E.K.M. Masinambow —yakni artefak, perilaku kinetis, perilaku verbal, tuturan, dan teks— merupakan elemen penting yang diproduksi oleh manusia dalam menentukan derajat budayanya.

Derajat, merupakan luaran yang dihasilkan dari sebuah kegiatan budaya. Kata ‘derajat’ memberikan daya tawar bagi seseorang yang mampu menunjukkan potensi budayanya di hadapan manusia lainnya. Dalam konteks sebuah komunitas, kumpulan manusia tertentu yang terbingkai dalam kata ‘masyarakat’ yang mampu menunjukkan potensi positif akan memberikan kesan kolektif yang positif pula bagi masyarakat lainnya. Lebih luas lagi, masyarakat yang terhimpun dalam dalam kata ‘bangsa’ akan memberikan derajat lebih bagi bangsa lainnya yang terlembagakan dalam kata ‘negara’.

DSC_0146

Ya, dua paragraf di atas memang terlampau serius sebagai kalimat pembuka dari sebuah essay perjalanan. Tulisan ini merupakan refleksi atas perjalanan saya ke negara Jepang dalam bingkai program JENESYS 2.0 (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth) yang diselenggarakan atas kerjasama Japan International Cooperation Center (JICE), Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kunjungan pada tanggal 23 Februari hingga 4 Maret 2014 tersebut merupakan bentuk realisasi atas bayangan-bayangan yang telah terbentuk sebelumnya. Jepang bukanlah negara yang asing. Sejak lama kata ‘Jepang’ memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi perkembangan budaya dunia, termasuk Indonesia. Jepang merupakan salah satu negara maju di dunia. Dengan berbagai produk teknologi yang menjamur dan digunakan oleh hampir seluruh masyarakat dunia, Jepang menjadi negara yang sangat diperhitungkan oleh dunia dalam berbagai aspek kehidupannya. Itulah imajinasi penulis sebelum menjejakkan kakinya di negeri yang dahulu beribukota di Kyoto ini.

Tulisan mengenai kunjungan silang budaya antar bangsa —yang dilaksanakan  selama sepuluh hari dengan agenda mengunjungi beberapa lokasi budaya di negeri sakura— ini akan mengulas tentang keramahan budaya yang ditampilkan oleh masyarakat Jepang khususnya di Museum Edo-Tokyo. Museum ini terletak di kota Tokyo, tepatnya di kawasan Ryogoku. Museum ini menjadi saksi bisu atas perjalanan sejarah kota Tokyo sejak masa Edo.

Edo-Tokyo_Museum

Museum Edo-Tokyo

Secara fisik bangunan, museum ini ditampilkan dengan balutan arsitektur bernuansa modern. Bangunan setinggi tujuh lantai ini terhubungkan dengan eskalator yang membuat pengunjung tidak akan merasa kelelahan untuk sampai ke ruangan inti dimana display sejarah ditampilkan di lantai enam.

Sejak di lantai dasar, saya beserta 95 Peserta JENESYS lainnya langsung dibagikan tiket masuk secara gratis oleh panitia. Sebagai catatan, kita dapat memperoleh akses masuk ke museum tersebut cukup dengan merogoh kocek dengan harga bervariasi mulai 240 hingga 600 Yen tergantung pada klasifikasi pengunjung. Setelah mendapatkan tiket, kami digiring menuju Hall Audio Visual untuk menyaksikan video tentang sejarah peradaban kota Tokyo di masa silam. Visualisasi selama 20 menit ini ditampilkan sebagai pengantar bagi setiap pengunjung sebelum memasuki area display. Bagi pengunjung yang gemar berbelanja atau ingin membeli oleh-oleh, di tempat ini terdapat “Museum Shop” yang menyediakan berbagai pernak-pernik yang berkaitan dengan museum ini dengan harga yang variatif. Berdasarkan informasi yang diperoleh, secara umum, pernak-pernik yang dijual di tempat-tempat wisata di Jepang hanya tersedia di tempat tersebut alias tidak tersedia di tempat lain.

DSC_0180

Tampak Karya-karya Seni Sepanjang Eskalator

Usai menyaksikan video, kami langsung diarahkan ke lantai enam dengan menaiki eskalator pada setiap lantainya. Selama menaiki eskalator, pengunjung tidak dibiarkan bosan karena di setiap dindingnya terdapat karya-karya seni baik berupa gambar-gambar yang menjadi ciri khas bangsa Jepang.

DSC_0182

Replika Jembatan Nihonbashi

Sesampainya di lantai enam, “takjub”, kata itulah yang terucap. Museum ini menampilkan sosok lain dari sebuah peninggalan sejarah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang sudah usang dan tidak layak untuk diperlihatkan. Anggapan tersebut tidak tampak di museum ini. Replika jembatan Nihonbashi yang terkenal itu membagi lantai ini menjadi dua kawasan yaitu kawasan Edo dan kawasan Tokyo. Kawasan Edo menampilkan masa lalu kota Tokyo di bawah pemerintahan Tokugawa. Kita dapat melihat berbagai macam tampilan seperti pedang, baju besi, replika rumah, perahu, hingga potret sosial pada masa tersebut. Sedangkan di kawasan Tokyo, kita akan disuguhi pemandangan menarik mengenai perkembangan kota Tokyo sebagai simbol kota modern. Di kawasan ini ditampilkan mengenai potret Jepang saat Perang Dunia Kedua hingga kesuksesan Jepang untuk bangkit dari keterpurukan tahun 1945 dengan menggelar Olimpiade tahun 1964.

Museum ini bagaikan mesin waktu yang membawa setiap pengunjungnya kembali ke masa silam. Ditampilkannya replika-replika yang sangat menyerupai aslinya serta tingkat kebersihan artefak yang sangat baik menjadikan pengunjungnya sangat ramai dikunjungi oleh setiap kalangan terutama oleh kalangan muda yang pada umumnya merasa risih dengan istilah ‘kuno’. Dalam pengalaman kami saja, banyak sekali anak muda mulai SD hingga SMA yang mengunjungi museum ini sehingga membuat museum ini sangat ramai meskipun pada hari kerja.

2014-02-25 09.48.35

Deretan Kursi Roda untuk Penyandang Difabel

Keramahan untuk Kaum Difabel

Sejak awal memasuki museum ini, kita akan disuguhi pemandangan menarik. Di pintu masuk museum ini, terdapat deretan kursi roda yang bebas digunakan oleh setiap penyandang difabel maupun kaum manula yang tidak dapat menggunakan kakinya secara maksimal untuk berjalan menyusuri museum ini. Selain itu, hal yang tidak kalah mencengangkan adalah saat di lantai enam, terdapat pula replika-replika artefak yang menjadikan huruf braille sebagai petunjuk nama artefak.

Apa yang saya lihat merupakan preseden baik bahkan luar biasa. Hak untuk menikmati produk budaya seharusnya tidak hanya diperuntukkan secara dominan bagi kelompok tertentu. Inilah yang ditampilkan di Museum Edo-Tokyo. Kepedulian terhadap sesama ini tentu menimbulkan efek domino karena museum juga menyediakan fasilitas lain seperti eskalator dan toilet khusus bagi penyandang difabel.

DSC_0151Keramahan ala Jepang: Penutup

Museum merupakan tempat ditampilkannya potret-potret masa silam suatu bangsa. Bangsa Jepang, melalui Museum Edo-Tokyo, menampilkan potret sosialnya di masa lalu dengan mengandalkan keramahan-keramahan ala Jepang. Keramahan dalam menjadikan museum sebagai tempat yang nyaman, keramahan dalam memadukan tradisionalitas dan modernitas, keramahan memperlakukan sesama, hingga keramahan dalam memandang bangsa lain. Untuk keramahan yang terakhir ini, saya mendapati kata-kata yang membanggakan ketika berbincang sekaligus mengajak berfoto dengan petugas keamanan museum yang mengatakan bahwa “Indonesia is very good country”.

Atas dasar pengalaman ini, baik kiranya apabila nilai-nilai keramahan ini diterapkan dalam suasana kehidupan sosial kita, khususnya di Indonesia. Keramahan akan membuat setiap orang menjadi nyaman berada di negeri kita. Melalui keramahan kita dapat memperbaiki penilaian-penilaian negatif yang selama ini disematkan oleh orang lain kepada kita. Dalam konteks Indonesia, keramahan akan mengembalikan citra positif bangsa ini sekaligus meningkatkan derajat bangsa Indonesia di mata bangsa lainnya.

Arrigatou gozaimasu.

[*] Mahasiswa Program Magister, Program Studi Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.