Category: Artikel



Cerita Azra; Biografi Cendikiawan Muslim Azyumardi Azra

Judul: Cerita Azra; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Penulis: Andina Dwifatma
Editor: Adhika Prasetya K
Penerbit: Erlangga, 2011
Halaman: 248
———

Cerita Azra adalah buku biografi tentang cendikiawan Muslim Azyumardi Azra yang kiprahnya berkibar baik di dunia pendidikan, maupun dunia pemikiran. Azyumardi Azra adalah Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Namanya mulai dikenal sebagai Cendikiawan Muslim dan pengamat Timur Tengah semenjak pemikiran-pemikirannya dilempar ke ruang publik dan disambut dengan respon yang bervariasi. Namanya semakin dikenal luas terlebih ketika ia dipercaya oleh mantan Wapres Jusuf Kalla untuk menjadi Deputi Sekretaris Wakil Presiden (Seswapres) Bidang Kesra selama dua tahun. Continue reading


Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Oleh. As_Syita

Setelah membaca buku kecil yang memiliki cover hijau tua dan berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” itu ada beberapa kutipan yang kutemukan dan bisa teman-teman baca. Mungkin bisa dijadikan satu penyemangat untuk kita yang masih muda. Menyelami pikiran seorang anak muda yang ‘gelisah di zamannya. Atau kalau tidak, catatan pendek yang berisi beberapa kutipan ini bisa dijadikan sekadar bahan bacaan untuk teman-teman.

Sebagai catatan, Ahmad Wahib adalah salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (meski belum tercatat sebagai sarjana di sana) yang bergabung dalam satu pergerakan mahasiswa yang biasa kita sebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sama seperti Soe Hok Gie, Wahib mati muda karena kecelakaan yang dialaminya. Dia meninggal karena tertabrak sepeda motor ketika pulang dari kantor majalah TEMPO, tempat ia bekerja sebagai calon wartawan. Wahib adalah pemuda yang gelisah dan memiliki banyak pertanyaan tentang Islam, tentang Himpunan yang dicintainya, tentang politik dan budaya, tentang mahasiswa dan kaum intelektual yang berada di menara gading. Catatan harian yang diterbitkannya menimbulkan kontroversi karena pada beberapa bagian, pemikirannya dianggap terlalu radikal karena ia sempat mempertanyakan Allah yang menjadi Tuhannya dan menjadikan Marx pantas masuk surga karena pemikirannya. Ada alasan-alasan yang menjadikan Wahib bertanya-tanya. Tidak perlu berpanjang lebar, karena ini hanya sekilas tentang Wahib. Berikut adalah beberapa kutipan yang kutemukan di dalam buku kecil yang baru selesai setelah beberapa hari ini kubaca: Continue reading


Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan[*]

Kehadiran sebuah negara menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup dalam satu kawasan, dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat.[1]

Dalam konsepsi Islam, menurut kebanyakan ahli politik Islam modern, tidak ditemukan rumusan yang pasti tentang konsep negara. Dua sumber Islam, al-Qur’an dan al-Sunnah, tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam Islam. Meskipun demikian, Islam mengajarkan banyak nilai dan etika bagaimana seharusnya negara itu dibangun dan dibesarkan.

Indonesia adalah negara yang secara konstitusional bukan negara Islam atau negara agama, tetapi tidak dapat disangkal bahwa sejak berdirinya hingga saat ini, agama khususnya Islam memiliki andil dan peran penting dalam membentuk karakter Indonesia sebagai negara bangsa. Continue reading


Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Orientasi aktifitas HMI yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi menganjurkan terjadinya proses adaptasi pada jamannya. (Memori penjelasan asas HMI)

Kata-kata tersebut mungkin menjadi dasar daripada orientasi kader HMI saat ini, walaupun saya sendiri tidak merasa yakin setiap kader HMI mengetahui bahkan mengapresiasikan memori asas perjuangan HMI itu. Namun setidaknya itu telah menjadi naluri setiap orang dalam menyesuaikan diri terhadap sekitarnya.

Periodisasi sejarah perjuangan HMI yang berakhir pada titik nadir kekesalan Cak Nur yang mengungkapkan pembubaran HMI semakin memantapkan posisi HMI saat ini. Program kesadaran kader untuk menegakkan HMI melalui jalur kultural dan kembali kepada misi awal memasyarakatkan kualitas insan cita terasa semakin naif. Continue reading


Oleh Wahyu Minarno[*]

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan coba diuji sejauh mana kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman. Hari ini Indonesia sedang dihadapkan dengan persoalan sangat serius,, yaitu globalisasi. Memang sebagai anak kandung yang terlahir dari rahim modernisasi, globalisasi tidak hanya membawa dampak negatif, ia juga berimplikasi positif terhadap beberapa sektor kehidupan. Berada pada situasi global yang penuh dengan tantangan dan ancaman seperti hari ini, di manakah HMI semestinya memposisikan diri? Dihadapkan dengan budaya masyarakat yang secara evolutif mengalami pergeseran kecenderungan, bagaimana seharusnya HMI mengambil sikap? Kemudian, strategi perjuangan seperti apakah yang akan diperankan oleh HMI sehingga keberadaannya masih bisa dikatakan relevan? Beberapa pertanyaan tersebut masih setia menanti kepastian jawaban dari HMI, sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia. Continue reading