Category: Islam



Group A-Chiba, JENESYS 2.0

By. Muhammad Nida’ Fadlan and Dadi Darmadi

Local culture is undoubtedly a very important aspect to every nation. Having an awareness of local culture, especially among the youth, plays a great role in shaping a society and a state. For one to have an appreciation of another country’s culture, however, can be an important starting point in breaking down barriers of misperceptions or misunderstandings, and in helping to build global relationships. In support of this idea, the Japanese Embassy in Jakarta this year offered a special program called the Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (JENESYS) to strengthen the awareness of Japanese local culture among Muslim youth in Indonesia. In early 2014, the Japanese government, working in cooperation with PPIM (Center for the Study of Islam and Society) at UIN Syarif Hidayatullah in Jakarta, invited a number of university students to visit Japan. Continue reading

Advertisements

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Naskah merupakan alat rekam berbagai aktifitas pemiliknya, begitulah fungsi naskah yang disampaikan Oman Fathurahman dalam pengantar penyusunan Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar. Pada masanya, keberadaan naskah sangat dibutuhkan karena dianggap sebagai alat yang paling efisien dan tahan lama. Sehingga, sebagai salah satu artefak hasil kegiatan manusia, naskah menyimpan banyak potensi yang mampu mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang dimiliki oleh penulis, pemilik, maupun daerah tempat ditulisnya naskah tersebut. Continue reading


Ilustrasi Digitalisasi Naskah Kuno

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tetap eksis sampai sekarang. Tidak dapat dimungkiri, keberadaan lembaga pendidikan pesantren telah mengilhami terbentuknya berbagai lembaga pendidikan yang ada pada saat ini. Selain itu,  keberadaan pesantren juga telah mengilhami banyak peneliti lokal dan internasional untuk mengkaji sisi keunikan pesantren, mulai dari kesederhanaannya, sistem dan metodenya, hingga mengkaji tentang hubungan antara kiyai dan santri yang tidak sekadar sebagai hubungan antara guru dan murid, namun sebagai hubungan antara orang tua dan anak.

Di masa lampau, para ulama memiliki cita-cita untuk melestarikan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Cita-cita para ulama tersebut diwujudkan dengan jalan mendirikan pesantren dan menulis kitab untuk kepentingan pengajaran para santri. Berbagai disiplin ilmu yang diajarkan di pesantren tulis di atas alas naskah yang beragam, seperti kertas, kulit kayu, bambu, lontar, dan sebagainya. Continue reading


Click here to watch some videos on manuscripts digitizationBy. Muhammad Nida’ Fadlan

Islamic Manuscript Unit (ILMU) of the Center for the Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) Jakarta in cooperation with Rumah Kitab Foundation and the Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA) organized the Digitalization and Catalogization of Nusantara Manuscripts training on February 21-22th, 2012 in PPIM UIN Jakarta. This is the second training conducted by ILMU PPIM after the first training in 2010.

The training was supported by the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts (Masyarakat Pernaskahan Nusantara [Manassa]), a professional association focuses on Nusantara manuscripts. Manassa lent their digitalization equipments obtained from Leipzig Univerity, Germany to be used during the training.

Participants include fifteen manuscript owners from two oldest traditional pesantrens: Babakan Ciwaringin and Buntet in Cirebon, West Java. They obtained the knowledge and the skills to digitalize manuscripts under the guidance of Dr. Oman Fathurahman (the Coordinator of ILMU-PPIM), Lies Marcoes-Natsir, MA. (the Director of Rumah Kitab Foundation), and Munawar Holil, M.Hum. (Manassa). Continue reading


Slogan Menolak Kekerasan

Kekerasan terus menjadi bahasa intoleransi sejumlah organisasi massa Islam. Dengan klaim melawan ajaran sesat, mereka menghancurkan masjid dan properti milik minoritas Ahmadiyah. Atas nama mayoritas, mereka menutup pendirian gereja. Baru-baru ini, karena tak menyetujui orientasi seksual Irshad Manji, mereka membubarkan diskusi buku feminis muslim asal Kanada itu. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Mereka menampilkan apa yang disebut oleh Ian Douglas Wilson (2008) sebagai “preman Islam”. Mereka menggunakan pemaksaan dan kekerasan dengan memanipulasi sentimen serta isu-isu Islam untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka. Semestinya monopoli penggunaan kekerasan hanya milik negara. Sebab, negaralah yang, menurut konstitusi, punya wewenang menegakkan hukum dan keteraturan sosial. Continue reading