Latest Entries »


Illustrasi membaca naskah kuno

Illustrasi membaca naskah kuno

Oleh: Muhammad Nida’ Fadlan[2]

Salah satu tujuan utama para kodikolog adalah mengetahui sejarah sebuah naskah. Hal itu dapat diperoleh dengan cara mencari usia sebuah naskah kemudian menghubungkannya dengan konteks realitas pada zaman naskah tersebut ditulis. Pada tulisan kali ini, akan disampaikan salah satu metode pengungkapan usia saat naskah ditulis yakni menggunakan metode chronogram. Metode ini menyatakan bahwa bagi setiap kata memiliki nilai numerik yang berbeda-beda yang terkadang sesuai dengan realitas makna yang terkandung dalam kata tersebut bisa juga tidak. View full article »

Advertisements

Pustaha, buku lipat dari Batak

Pustaha, buku lipat dari Batak (http://budaya-indonesia.org/)

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Istilah pustaha disebut sebagai buku ramalan masyarakat Batak yang telah dikenal di dunia Barat sejak 200 tahun yaitu saat Van der Tuuk menjadikan isi pustaha sebagai objek penelitiannya. Akan tetapi artikel yang ditulis oleh Rene Teygeler ini tidak akan mengulas isi penelitian Van der Tuuk, melainkan untuk merekonstruksi proses produksi dari pustaha berdasarkan beberapa studi literatur serta mengkaji beberapa alat tulis dan bahan naskah yang digunakan olehnya. Heterogenitas masyarakat suku Batak (Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing) menimbulkan asumsi beragamnya tata cara pembuatan pustaha pada masing-masing kelompok masyarakat. Akan tetapi, Teygeler menegaskan bahwa terdapat keseragaman dalam pembuatan pustaha meskipun terdapat perbedaan latar belakang etnis pada tiap kelompok.  View full article »


Ilustrasi Digitalisasi Naskah Kuno

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tetap eksis sampai sekarang. Tidak dapat dimungkiri, keberadaan lembaga pendidikan pesantren telah mengilhami terbentuknya berbagai lembaga pendidikan yang ada pada saat ini. Selain itu,  keberadaan pesantren juga telah mengilhami banyak peneliti lokal dan internasional untuk mengkaji sisi keunikan pesantren, mulai dari kesederhanaannya, sistem dan metodenya, hingga mengkaji tentang hubungan antara kiyai dan santri yang tidak sekadar sebagai hubungan antara guru dan murid, namun sebagai hubungan antara orang tua dan anak.

Di masa lampau, para ulama memiliki cita-cita untuk melestarikan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Cita-cita para ulama tersebut diwujudkan dengan jalan mendirikan pesantren dan menulis kitab untuk kepentingan pengajaran para santri. Berbagai disiplin ilmu yang diajarkan di pesantren tulis di atas alas naskah yang beragam, seperti kertas, kulit kayu, bambu, lontar, dan sebagainya. View full article »


Click here to watch some videos on manuscripts digitizationBy. Muhammad Nida’ Fadlan

Islamic Manuscript Unit (ILMU) of the Center for the Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) Jakarta in cooperation with Rumah Kitab Foundation and the Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA) organized the Digitalization and Catalogization of Nusantara Manuscripts training on February 21-22th, 2012 in PPIM UIN Jakarta. This is the second training conducted by ILMU PPIM after the first training in 2010.

The training was supported by the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts (Masyarakat Pernaskahan Nusantara [Manassa]), a professional association focuses on Nusantara manuscripts. Manassa lent their digitalization equipments obtained from Leipzig Univerity, Germany to be used during the training.

Participants include fifteen manuscript owners from two oldest traditional pesantrens: Babakan Ciwaringin and Buntet in Cirebon, West Java. They obtained the knowledge and the skills to digitalize manuscripts under the guidance of Dr. Oman Fathurahman (the Coordinator of ILMU-PPIM), Lies Marcoes-Natsir, MA. (the Director of Rumah Kitab Foundation), and Munawar Holil, M.Hum. (Manassa). View full article »


Slogan Menolak Kekerasan

Kekerasan terus menjadi bahasa intoleransi sejumlah organisasi massa Islam. Dengan klaim melawan ajaran sesat, mereka menghancurkan masjid dan properti milik minoritas Ahmadiyah. Atas nama mayoritas, mereka menutup pendirian gereja. Baru-baru ini, karena tak menyetujui orientasi seksual Irshad Manji, mereka membubarkan diskusi buku feminis muslim asal Kanada itu. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Mereka menampilkan apa yang disebut oleh Ian Douglas Wilson (2008) sebagai “preman Islam”. Mereka menggunakan pemaksaan dan kekerasan dengan memanipulasi sentimen serta isu-isu Islam untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka. Semestinya monopoli penggunaan kekerasan hanya milik negara. Sebab, negaralah yang, menurut konstitusi, punya wewenang menegakkan hukum dan keteraturan sosial. View full article »