Tag Archive: Indonesia



Group A-Chiba, JENESYS 2.0

By. Muhammad Nida’ Fadlan and Dadi Darmadi

Local culture is undoubtedly a very important aspect to every nation. Having an awareness of local culture, especially among the youth, plays a great role in shaping a society and a state. For one to have an appreciation of another country’s culture, however, can be an important starting point in breaking down barriers of misperceptions or misunderstandings, and in helping to build global relationships. In support of this idea, the Japanese Embassy in Jakarta this year offered a special program called the Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (JENESYS) to strengthen the awareness of Japanese local culture among Muslim youth in Indonesia. In early 2014, the Japanese government, working in cooperation with PPIM (Center for the Study of Islam and Society) at UIN Syarif Hidayatullah in Jakarta, invited a number of university students to visit Japan. Continue reading


Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Naskah merupakan alat rekam berbagai aktifitas pemiliknya, begitulah fungsi naskah yang disampaikan Oman Fathurahman dalam pengantar penyusunan Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar. Pada masanya, keberadaan naskah sangat dibutuhkan karena dianggap sebagai alat yang paling efisien dan tahan lama. Sehingga, sebagai salah satu artefak hasil kegiatan manusia, naskah menyimpan banyak potensi yang mampu mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang dimiliki oleh penulis, pemilik, maupun daerah tempat ditulisnya naskah tersebut. Continue reading


Naskah Klasik sebagai Manifestasi Kebudayaan (Foto: Republika)

Naskah Klasik sebagai Manifestasi Kebudayaan (Foto: Republika)

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan[1]

Sebagai seorang akademisi yang sangat memperhatikan aspek-aspek pengajaran dan pengembangan kebudayaan, E.K.M. Masinambow merupakan panutan bagi setiap orang yang ingin mengkaji ragam perkembangan ilmu pengetahuan budaya. Tulisan ini akan memberikan pemahaman terkait beberapa pemikiran Masinambow yang tertulis dalam artikel populernya yang berjudul Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. Artikel tersebut merupakan pedoman bagi para akademisi maupun praktisi budaya untuk menjawab berbagai polemik atas realitas perkembangan budaya di masa kini. Continue reading


Illustrasi membaca naskah kuno

Illustrasi membaca naskah kuno

Oleh: Muhammad Nida’ Fadlan[2]

Salah satu tujuan utama para kodikolog adalah mengetahui sejarah sebuah naskah. Hal itu dapat diperoleh dengan cara mencari usia sebuah naskah kemudian menghubungkannya dengan konteks realitas pada zaman naskah tersebut ditulis. Pada tulisan kali ini, akan disampaikan salah satu metode pengungkapan usia saat naskah ditulis yakni menggunakan metode chronogram. Metode ini menyatakan bahwa bagi setiap kata memiliki nilai numerik yang berbeda-beda yang terkadang sesuai dengan realitas makna yang terkandung dalam kata tersebut bisa juga tidak. Continue reading


Pustaha, buku lipat dari Batak

Pustaha, buku lipat dari Batak (http://budaya-indonesia.org/)

Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Istilah pustaha disebut sebagai buku ramalan masyarakat Batak yang telah dikenal di dunia Barat sejak 200 tahun yaitu saat Van der Tuuk menjadikan isi pustaha sebagai objek penelitiannya. Akan tetapi artikel yang ditulis oleh Rene Teygeler ini tidak akan mengulas isi penelitian Van der Tuuk, melainkan untuk merekonstruksi proses produksi dari pustaha berdasarkan beberapa studi literatur serta mengkaji beberapa alat tulis dan bahan naskah yang digunakan olehnya. Heterogenitas masyarakat suku Batak (Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing) menimbulkan asumsi beragamnya tata cara pembuatan pustaha pada masing-masing kelompok masyarakat. Akan tetapi, Teygeler menegaskan bahwa terdapat keseragaman dalam pembuatan pustaha meskipun terdapat perbedaan latar belakang etnis pada tiap kelompok.  Continue reading