Tag Archive: Tasawuf



Indonesia-Iran

Indonesia-Iran

Oleh. Sabir Laluhu

Meski secara geografis berbeda dengan jarak waktu tempuh yang jauh, Indonesia adalah sahabat psikologis Indonesia. Iran bahkan menyumbangkan banyak ilmuan dan cendekiwan yang turut mewarnai peradaban dunia hingga saat ini.

Kedekatan psikologis ini diakui oleh Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dalam sambutannya di Konferensi Internasional The Role and Contribution of Iranian Scholars to Islamic Civilization yang diselenggarakan Pusat Pengkajian dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Auditorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kamis (8/3). Continue reading


Katalog Naskah Tanoh Abee

Oleh: Dr. Oman Fathurahman[*]

Indonesia masa lalu, ketika itu masih disebut Nusantara, telah mewariskan khazanah manuskrip kitab keagamaan dalam jumlah besar. Hal yang sebetulnya membuat Indonesia patut disebut sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia.

Sebut saja kitab tafsir Melayu pertama asal Aceh abad 17, Tarjuman al-mustafid karangan Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), atau kitab hadis Melayu pertama, al-Fawa’id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah karangan Nuruddin al-Raniri (w. 1658), kitab masterpiece di bidang tasawuf, Siar al-salikin dan Hidayat al-salikin karangan Abdussmad al-Palimbani asal Palembang, dan masih banyak lagi kitab-kitab lokal penting lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia. Continue reading


Makam Syekh Yusuf di Makassar
Makam Syekh Yusuf di Makassar

Muhammad Yusuf, atau sekarang lebih dikenal dengan Syekh Yusuf, adalah salah seorang tokoh spiritual dan fenomenal asal Sulawesi Selatan pada masanya hingga saat ini. Pria yang dilahirkan di Gowa, tahun 1626, atau empat abad silam, adalah ulama, sufi, dan penyebar Islam hingga tanah Afrika.

Ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah Abul Mahasin, konon adalah seorang rakyat jelata tapi memiliki latar belakang keislaman yang kuat. Sebaliknya ibu Syekh Yusuf yang bernama Aminah, adalah seseorang yang masih memiliki keturunan langsung dari Sultan Al Aladin. Continue reading


Untaian Mutiara

Al Hikam merupakan mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spritual, tidak hanya bagi para salik dan murid-murid tasawuf, tapi juga untuk umumnya para peminat olah batin. Untaian mutiaranya telah mempesona jutaan hamba pencari keindahan Sang Maha Indah.

Hidup akan diliputi kegamangan bila kita tidak tahu tujuan hidup kita. Dalam buku ini, Anda diajak menyelami Al-Hikam – hikmah-hikmah Ibnu Athaillah – agar hidup Anda tidak saja terarah dan bermakna, tetapi juga tenteram dan indah.

Al Hikam menyediakan arahan kepada kaum beriman untuk berjalan menuju Allah Swt, lengkap dengan rambu-rambu peringatan, dorongan dan penggambaran keadaan tahapan serta kedudukan rohani. Al-Hikam dipandang sebagai kitab kelas berat bukan saja karena struktur kalimatnya yang bersastra tinggi, melainkan juga kedalaman makrifat yang dituturkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat. Ia menjadi kitab yang bahasanya luar biasa indah – kata dan makna saling mendukung melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggetarkan. Continue reading


Oleh. Muhammad Nida’ Fadlan

Agama Islam telah muncul di kepulauan Nusantara sekitar abad ke-8 dan 9 M dibawa oleh para pedagang Arab dan Parsi. Namun baru pada abad ke-13 M, bersamaan dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai (1272-1450 M), agama ini mulai berkembang dan tersebar luas. Di kerajaan Islam besar tertua inilah peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan mekar.

Sebagai kota dagang yang makmur dan pusat kegiatan keagamaan yang utama di kepulauan Nusantara, Pasai bukan saja menjadi tumpuan perhatian para pedagang Arab dan Parsi. Tetapi juga menarik perhatian para ulama dan cendekiawan dari negeri Arab dan Parsi untuk datang ke kota ini dengan tujuan menyebarkan agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karangan-karangan bercorak tasawuf memiliki arti penting dalam sejarah tradisi intelektual Islam di Nusantara dan pembentukan kebudayaan Melayu. Pemahaman atas ajaran Islam secara lebih mendalam di kalangan terpelajar Nusantara dan terserapnya kebudayaan Melayu ke dalam Islam, banyak dibantu oleh kegiatan para sufi dan karangan-karangan yang mereka tulis dalam bahasa Melayu. Continue reading